Fenomena erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) turut menjadi perhatian karena aktivitas erupsi terdeteksi melalui citra satelit serta peningkatan aktivitas petir di sekitar gunung.
Namun, BMKG menilai peluang suara dari erupsi Gunung Anak Krakatau merambat hingga Bandung relatif kecil. Arah angin dari timur ke barat saat kejadian dinilai semakin memperkecil kemungkinan gelombang suara erupsi bergerak menuju Bandung Raya.
Karena itu, sumber dentuman tersebut masih diduga berasal dari sumber lain yang membutuhkan kajian lebih lanjut.
Dalam pemantauan lanjutan, sejumlah instrumen BMKG menemukan anomali. Pemantauan di Pulau Sebesi merekam anomali seismogram pada pukul 23.08 WIB dan 23.32 WIB atau 16.08 UTC dan 16.32 UTC.
Gangguan magnetik internal bumi juga tercatat di stasiun magnet bumi Sukabumi (SKB) dan Serang (SRG). Anomali tersebut terjadi pada 4 September pukul 23.00 WIB hingga 5 September pukul 02.00 WIB. Dalam periode tersebut tidak ditemukan aktivitas badai matahari.