- Laut Maluku dan Laut Bali;
- Samudera Pasifik utara Maluku, Papua Barat Daya, Papua, dan Papua Barat;
- Laut Sumbawa serta Laut Jawa bagian barat dan tengah.
"Sedangkan, pada gelombang yang lebih tinggi di kisaran 2,5–4,0 meter berpeluang terjadi di Samudera Hindia barat Bengkulu, Samudera Hindia barat Lampung, Samudra Hindia selatan Jawa Timur," tulis keterangan BMKG, Rabu (4/11/2026).
BMKG mengingatkan potensi gelombang tinggi di sejumlah wilayah tersebut dapat membahayakan keselamatan pelayaran. Karena itu, masyarakat, khususnya nelayan dan operator transportasi laut, diminta meningkatkan kewaspadaan.
BMKG juga mengimbau masyarakat memperhatikan risiko berdasarkan jenis kapal dan kondisi cuaca. Untuk perahu nelayan, risiko dapat terjadi saat kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang 1,25 meter.
Sementara itu, kapal tongkang berisiko terdampak saat kecepatan angin mencapai 16 knot dan tinggi gelombang 1,5 meter. Adapun kapal feri perlu mewaspadai kondisi saat kecepatan angin mencapai 21 knot dan tinggi gelombang 2,5 meter.
"Dimohon kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi agar tetap selalu waspada," kata BMKG.