Mantan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menyebut, salah satu hal yang masih diperhitungkan adalah kapasitas produksi dan luas area yang bisa ditangani menggunakan campuran tersebut. Sebab, proses produksi membutuhkan waktu sebelum bahan dapat digunakan dalam skala yang lebih besar.
“Memang lagi dihitung ini sekarang ini. Karena emang untuk produksi itu kan butuh, butuh waktu, ya,” ucapnya.
Arif menuturkan, pengujian sebelumnya baru dilakukan di lahan milik BRIN dengan luasan terbatas. Pada tahap berikutnya, BRIN akan mencoba menerapkan campuran tersebut di area yang lebih luas untuk mengetahui penerapannya di lapangan.
“Ya, kita akan coba kan selama ini kan baru dicoba di tanah, di tanah BRIN ya, di tanah yang ada di tanah yang luasnya baru sekecil. Nah, sekarang kita coba untuk luasan yang lebih besar lagi,” ujar Arif.
Meski demikian, Arif belum mengungkapkan luas lahan yang akan menjadi lokasi uji coba maupun target area penanganan karhutla menggunakan campuran tersebut.
“Ya, mohon doanya moga-moga lancar,” tuturnya.