Ia mengingatkan bahwa karya yang menang lomba belum otomatis siap digunakan masyarakat. Terutama pada bidang kesehatan dan pangan, manfaat, keamanan, serta kesesuaian penggunaannya perlu dibuktikan melalui tahapan pengujian yang relevan.
Karena itu, pertemuan antarkampus selama OASE memiliki arti strategis. Mahasiswa dapat memperoleh masukan, dosen dapat mengenali peluang penelitian bersama, dan perguruan tinggi dapat menjajaki pemanfaatan keahlian maupun fasilitas secara kolaboratif.
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Abdur Rozaki sebelumnya telah menekankan orientasi tersebut dalam rapat koordinasi persiapan OASE III. “Ini bukan sekadar lomba, melainkan bagaimana langkah dan inovasi mahasiswa dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi Indonesia,” katanya.
Secara teknis, peluang pertemuan itu diperluas melalui ekspo inovasi yang melibatkan 34 PTKIN di Halaman Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Ekspo direncanakan dibuka pada 4 November 2026 sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.
“Melalui ekspo, kampus dapat mengenali potensi penelitian satu sama lain. Interaksi mahasiswa dan dosen diharapkan menghasilkan masukan yang konkret serta peluang kerja sama setelah kegiatan selesai,” ujar Zaki.
OASE diharapkan dapat memperkuat hubungan antara prestasi mahasiswa dan pengembangan mutu kampus. Hasil lomba memberi pengakuan, sementara proses sesudahnya menentukan sejauh mana sebuah gagasan dapat tumbuh menjadi pengetahuan atau teknologi yang berguna.