Menurutnya, kebutuhan pengembangan jaringan transportasi berbasis kereta membuat pemerintah harus mempertimbangkan sejumlah pilihan untuk memenuhi kebutuhan armada. Karena itu, opsi impor KRL dari Jepang masih dikaji bersama rencana penguatan industri kereta nasional.
Di sisi lain, kondisi keuangan INKA juga menjadi perhatian dalam proses transformasi perusahaan. Dony menyebut ekuitas INKA saat ini negatif dan terdapat pinjaman yang dinilai tidak berkelanjutan.
"INKA itu sekarang kan posisinya saya sudah sampaikan bahwa equity-nya negatif. Kemudian ada unsustain loan-nya. Makanya ini bagian daripada proses transformasi yang juga harus kita lakukan," tuturnya.
Danantara, kata Dony, masih mengkaji kemungkinan penambahan modal untuk memperkuat INKA. Langkah ini juga mempertimbangkan adanya kepastian penyerapan produk INKA oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI.
"Kalau mereka membutuhkan equity tambahan, kita akan melakukan proses penambahan equity tambahan. Karena offtake-nya jelas kan. Karena apa-apa pabrik yang mereka produksinya mereka akan di-offtake oleh Kereta Api," ucap Dony.
Dony menegaskan penguatan INKA tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan pengembangan transportasi publik secara keseluruhan. Karena itu, kebutuhan tambahan modal dan pilihan pengadaan KRL masih menjadi bagian dari kajian Danantara.
"Jadi ini enggak bisa dilihat satu per satu. Ada possibility sedang kita kaji berapa kemungkinan kita harus inject equity kepada INKA," ucap Dony.