Dapatkah Rasionalitas Berpikir Bertahan di Zaman Artificial Intelligence? 

iNews
Firman Kurniawan S, Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital, Pendiri LITEROS.org (Foto: Dok Pribadi)

Manasi Bandal, 2023, dalam “Rational Thinking: The Key to Making Better Decisions and Solving Problems”, menyebut berpikir rasional merupakan proses penggunaan logika dan akal sehat untuk mengevaluasi informasi dan membuat keputusan. Keputusan dalam bersikap tentunya. Berdasarkan prosesnya, dirangkum sebagai cara berpikir yang sistematis dan objektif, yang didasarkan pada fakta dan bukti, alih-alih bercampur emosi maupun bias.

Di masa sebelumnya, Rohan Parikh, 2021 dalam “Rational Thinking – a Skill for Young Minds”, menyebut hal yang senada. Menurutnya, berpikir rasional adalah sebuah proses yang mengacu pada kemampuan yang didasari nalar. Proses ini mencakup kemampuan untuk menarik kesimpulan yang masuk akal, dari fakta, logika, dan data. 

Lalu apa yang menyebabkan tergerusnya rasionalitas yang dikaitkan dengan media sosial? Akibat terbentuknya logika biner merembes dari cara perangkat digital beroperasi dari sistem biner. Sistem yang mendasari komputasi digital, terdiri dari dua nilai, 0 dan 1. Sedangkan relasi di antara keduanya, sebagai pilihan 0 atau 1 yang mutlak. Bukan 0 dan 1, alih-alih antara 0 dan 1. Sistem biner ini menyebabkan perangkat lunak dapat menggerakkan perangkas keras teknologi digital. Kombinasi pilihan binernya menjadi dasar operasinya. 

Sementara alam semesta yang penuh nuansa, tak mutlak sebatas dua piilihan itu. Maka ketika hendak direpresentasikan ke dalam teknologi digital, harus diubah menjadi kode biner agar dapat dioperasikan dan memberi respons dalam waktu yang sangat singkat. Dan makin cepat saat didukung riwayat pengambilan keputusan sebelumnya, yang disebut algoritma. Maka dapat disebut: sistem biner, pada berbagai perangkat teknologi di kehidupan sehari-hari, merupakan cara perangkat, menyerap kealmiahan alam semesta, sebagai kode matematis. Karena perangkat operasinya berbasis 2 pilihan di-gital maka teknologinya disebut sebagai teknologi digital. 

Alam semesta  maupun nuansa kemanusiaan di atasnya memenuhi sistem biner, harus diubah dalam relasi dikotomis. Hitam atau putih, lemah atau kuat, lawan atau kawan, musnahkan atau kembangkan. Seluruhnya, agar dapat dikodekan sebagai 0 atau 1, dan dijadikan sebagai pilihan. Terjadi simplikasi penyederhanaan radikal, pada nuansa yang penuh kemungkinan. Mengikuti sistem biner yang mengoperasikan perangkat, pengguna perangkat digital juga dipaksa melakukan penyederhanaan kekayaan nuansa ke dalam logika biner.

Editor : Maria Christina
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Nirempati ke Timothy, Calon Dokter Unud Calista Amore Minta Maaf: Saya Menyesal

57 tahun lalu

Calista Amore Mahasiswi Unud Calon Dokter Minta Maaf ke Keluarga Timothy: Saya Sungguh Menyesal

57 tahun lalu

Aksi Artificial Intelligence Memerangi Korupsi

57 tahun lalu

"Efek Kupu-Kupu" Artificial Intelligence pada Nasib Peradaban

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal