JAKARTA, iNews.id – Wakil Ketua Komisi II DPRDede Yusuf Macan Effendi menilai pergantian nama Jawa Barat (Jabar) menjadi Tatar Sunda belum perlu dilakukan. Dia mengingatkan ada dampak yang akan terjadi akibat pergantian nama tersebut.
Dede menjelaskan Jabar dihuni oleh beragam kebudayaan yang heterogen. Selain Sunda, terdapat pula budaya Betawi di wilayah utara dan Cirebon yang memiliki kedekatan dengan budaya Jawa.
"Artinya, ketika menggunakan (nama) Sunda, maka ada beberapa kebudayaan yang akhirnya seperti menjadi minoritas. Padahal konsepnya Tatar Sunda itu adalah harusnya menjadi suatu daerah yang lebih egaliter," kata Dede, dikutip Rabu (8/7/2026).
Secara historis, kata dia, nama Jabar saat ini lebih mampu merangkul semua golongan. Dia khawatir perubahan nama yang spesifik merujuk pada satu etnis atau budaya tertentu justru akan memicu gesekan sosial.
Dede mengingatkan di masa lalu sempat muncul keinginan dari beberapa wilayah seperti Cirebon dan Bogor Raya untuk memisahkan diri menjadi provinsi sendiri. Mempertahankan nama Jabar, menurut dia, merupakan salah satu cara untuk menjaga persatuan dan memberi ruang bagi seluruh kebudayaan yang ada.