Lebih lanjut, Habib Jindan mengajak umat untuk meneladani sikap orang-orang saleh yang memandang keselamatan iman sebagai hal paling utama, melampaui kehilangan materi apa pun. “Selama iman saya aman, motor saya boleh hilang, rumah saya boleh terbakar,” kelakarnya.
Ia menegaskan bahwa musibah terbesar sejatinya bukanlah bencana fisik, melainkan terputusnya hubungan dengan rahmat dan rida Allah SWT.
“Musibah yang sejati adalah yang terpisah dari rahmat Allah Ta'ala. Bukan yang bisa ditimpa musibah fisik, tetapi musibah yang sebenarnya adalah yang terharamkan dari pahala dan rida Allah Subhanahu Wa Ta'ala,” ujarnya.
Menutup tausiah dan doanya, Habib Jindan memohon agar Allah SWT melindungi Indonesia dari bala dan bencana serta menganugerahkan pemimpin-pemimpin yang bertakwa.
“Dan Allah Ta'ala melindungi negeri ini, melindungi bangsa ini, dan menjauhkan musibah, bala, dan bencana,” pungkasnya.