Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi kering masih berlangsung di sejumlah wilayah, meskipun hujan signifikan telah terjadi di wilayah lainnya.
“Kondisi kering tersebut juga perlu menjadi perhatian terkait potensi kebakaran hutan dan lahan. Hasil pemantauan satelit menunjukkan bahwa titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi paling banyak terdeteksi di Papua Selatan sebanyak 615 titik, diikuti Kalimantan Tengah (255 titik) dan Kalimantan Timur (223 titik),” tulis BMKG.
Meski demikian, BMKG mengungkapkan bahwa dinamika atmosfer regional dan lokal masih dapat mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Interaksi berbagai faktor tersebut menyebabkan potensi hujan signifikan tetap perlu diantisipasi selama sepekan ke depan, bersamaan dengan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah yang masih mengalami kondisi kering.
BMKG melaporkan bahwa dalam sepekan ke depan, dinamika atmosfer Indonesia masih dipengaruhi oleh fenomena El Nino sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang secara umum cenderung mengurangi potensi pembentukan awan hujan di sebagian wilayah.