Dia mengatakan gejala penyakit tersebut juga dapat dideteksi dan ditangani menggunakan terapi yang tersedia.
"Biasanya akan bisa ditangani dalam dua sampai tiga hari dengan antibiotik yang ada saat ini," ujarnya.
Meski risiko penyebaran ke Indonesia dinilai sangat kecil, bukan berarti penyakit pes dapat diabaikan. Pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis dan memiliki beberapa bentuk, salah satunya pes pneumonik yang menyerang paru-paru.
Bentuk tersebut dapat menular antarmanusia melalui droplet pernapasan, terutama dalam kontak dekat. Karena itu, deteksi dini dan penanganan medis tetap penting apabila seseorang mengalami gejala yang mengarah pada penyakit tersebut setelah memiliki riwayat paparan.
Dokter Dicky menjelaskan, pola penularan juga menjadi salah satu faktor dalam menentukan apakah sebuah penyakit memiliki potensi berkembang menjadi pandemi.
Namun, menurut dia, kondisi tersebut tidak serta-merta menjadikan kasus pes di Rusia sebagai ancaman pandemi global.
Dengan tersedianya antibiotik efektif serta karakteristik penyakit yang sudah dikenal, dr Dicky menilai masyarakat Indonesia tidak perlu panik menyikapi kasus tersebut.