JAKARTA, iNews.id – Demam berdarah dengue (DBD) tidak hanya menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang sangat besar.
Studi terbaru Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkirakan total beban ekonomi akibat dengue di Indonesia sepanjang 2024 mencapai 550,9 juta dolar AS atau hampir Rp9 triliun, dengan lebih dari 2 juta kasus rawat inap. Temuan tersebut dipaparkan dalam Jakarta Dengue Forum (JDF) yang diselenggarakan PT Takeda Innovative Medicines bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang DKI Jakarta.
Besarnya beban kesehatan dan ekonomi itu dinilai menunjukkan bahwa dengue masih menjadi salah satu prioritas masalah kesehatan masyarakat yang membutuhkan upaya pencegahan lebih komprehensif.
Peneliti dari Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Dr. Diah Ayu Puspandari, M.Kes., MBA., Apt., mengatakan beban tersebut tidak hanya berasal dari biaya pengobatan, tetapi juga pengeluaran lain yang harus ditanggung pasien dan keluarganya.
"Studi terbaru kami pada 2024 menunjukkan bahwa kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) belum sepenuhnya membebaskan pasien dari beban biaya. Pasien JKN masih harus mengeluarkan biaya mandiri (out of pocket) rata-rata Rp1,1–1,3 juta saat menghadapi sebuah periode sakit akibat dengue untuk kebutuhan nonmedis seperti transportasi dan akomodasi pendamping, di luar hilangnya produktivitas, termasuk kehilangan pendapatan," ujar Diah.