JAKARTA, iNews.id - Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) dalam laporan The State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI) 2025 mencatat 43,5 persen penduduk Indonesia tidak mampu membeli pangan sehat. Selain itu, Global Hunger Index (GHI) 2025 menempatkan Indonesia pada posisi ke-70 dari 123 negara.
Skor itu menunjukkan level kelaparan masyarakat masih berada pada tingkat moderat. Posisi tersebut masih jauh dari kata sejahtera.
Bagi keluarga prasejahtera, urusan perut berarti bertahan hidup. Data menunjukkan porsi pendapatan mereka habis oleh belanja pangan. Akibatnya, kenaikan harga sekecil apa pun di pasar bagaikan hantaman badai yang seketika membuat pangan bergizi menjadi barang mewah yang tak terjangkau.
Salah satu kisah datang dari Kasmi Harasti, relawan di dua dapur SPPG, Kabupaten Kaur, Bengkulu. Saat bertugas di Desa Suka Bandung dan Desa Tanjung Iman, seorang siswa menyimpan telur rebus yang hari itu menjadi salah satu menu MBG.
“Ketika ditanya apakah dia tidak menyukai menu tersebut, siswa itu menjawab bahwa dia sangat menyukai telur. Namun, dia memilih menyimpannya untuk diberikan kepada ayahnya, karena di rumah mereka jarang mengonsumsi telur rebus,” ujar Kasmi dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/1/2026).
Dari kisah tersebut, terlihat negara perlu hadir untuk urusan pemenuhan gizi masyarakat. Program MBG sangat krusial bagi masyarakat di daerah terpencil, mengingat banyak masyarakat yang jarang mendapatkan akses terhadap sumber protein seperti telur, ayam, daging, maupun ikan laut.