“Pertanyaannya adalah apakah pemerintah intervensi sampai sejauh itu? Kita nggak ngomongin intervensi harga, kita lagi ngomongin intervensi penanggulangan krisis iklim sebagai akar dari masalahnya, itu satu,” ucapnya.
Krisis Iklim Ancam Penghasilan Pekerja Harian
Selain berdampak terhadap harga pangan, Greenpeace menyoroti ancaman krisis iklim terhadap mata pencaharian pekerja harian, termasuk pengemudi ojek online dan kurir. Aktivitas kerja kelompok tersebut sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Cuaca panas ekstrem maupun hujan dengan intensitas tinggi dapat menghambat aktivitas mereka di lapangan. Akibatnya, pekerja berisiko kehilangan penghasilan ketika tidak dapat menjalankan pekerjaan sehari-hari.
“Ketika cuaca panas terik, hujan ekstrem, mereka jadi nggak bisa bekerja. Ketika hari itu mereka tidak bisa bekerja, maka hari itu juga mereka nggak bisa dapat penghasilan. Hari itu juga mereka dan keluarganya nggak bisa makan,” kata Jeanny.
Dia menilai situasi tersebut semakin berat ketika masyarakat menghadapi keterbatasan lapangan pekerjaan dan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK). Menurutnya, pemerintah perlu memperhitungkan dampak krisis iklim terhadap kondisi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Jeanny mempertanyakan langkah pemerintah dalam melindungi masyarakat yang kehilangan pendapatan akibat gangguan cuaca. Dia menilai krisis iklim berkaitan erat dengan kebutuhan