Agus Kristiyanto (Foto: Dok Pribadi)
Sindonews

Agus Kristiyanto

Profesor Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga FKOR Universitas Sebelas Maret Surakarta, Tim Reviewer Desain Besar Olahraga Nasional (DBON), Tim Ahli Sport Development Index (SDI) Pusat.

KITA memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) setiap 9 September. Haornas sudah semestinya menjadi ritual rasa syukur tahunan untuk penguatan refleksi, evaluasi, dan kontemplasi wajah dan performa keolahragaan nasional. 

Di balik ingar-bingar peringatannya, terdapat pesan reflektif yang semestinya gencar mengakar dihadirkan dalam membangkitkan usaha peningkatan mutu pembangunan keolahragaan dari tahun ke tahun. 

Memperingatinya dengan mengembangkan tema spesifik, tentu saja memiliki nilai strategis tersendiri. Penetapan tema tahunan pada Haornas tentu saja bukan sekadar tradisi sloganistik yang diusung, tapi kristalisai dari pilihan arah kebijakan pemerintah yang disosialisasikan kepada publik. 

Tema Haornas 2022 adalah 'Bersama Cetak Juara'. Sebuah tema yang merupakan semangat inti yang memanfaatkan momentum menuju bangsa yang unggul dan berdaya saing. Unggul dan berdaya saing dalam bidang olahraga, maupun menstimulasi bangsa unggul dan berdaya saing melalui olahraga. 

Pesan moral dari tema tersebut secara sederhana dapat diartikan bahwa: Juara itu harus dicetak dan cara mencetaknya dilakukan secara bersama atau bersama-sama. Kata kuncinya adalah bahwa keunggulan yang 'menjuara' itu adalah sebuah karya besar adiluhung yang dipersyarati dengan nilai-nilai kegotongroyongan yang menasional. 

Pertama, harus dengan konsep gotong royong yang sebenarnya, bukan 'gotong royong' yang sekadar terlihat sama-sama bekerja tetapi sebenarnya tidak dalam kebersamaan. Sama-sama bekerja dalam kebersamaan memiliki arti yang sangat penting untuk direfleksi bersama.

Kedua, wajib dipersyarati dengan kerangka soliditas nasional, bukan didominasi oleh euforia kedaerahan, primordialisme, maupun aneka bentuk ego sektoral yang menimbulkan sekat-sekat pemisah secara eksklusif dalam ekosistem keolahragaan yang sangat labil.

Artinya, terdapat tantangan besar bersama sebagai sebuah bangsa untuk 'mengocok ulang' formula gotong royong keolahragaan untuk mewujudkan keunggulan dan daya saing secara hakiki, dalam perspektif kerja besar untuk kepentingan utama yang bersifat nasional dalam mencetak juara. 

Formula Gotong Royong Keolahragaan 

Gotong royong merupakan sebuah kearifan lokal, bahkan kejeniusan lokal yang bila dikelola dengan tepat akan menjadi kekuatan maha dahsyat. Gotong royong mengandung nilai-nilai khas yang sangat sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia yang heterogen dan memiliki unsur serba majemuk.

Setiap orang berada pada kondisi yang berbeda dalam prinsip gotong royong ini. Selaras dan disatukan oleh rasa kepedulian yang saling memperkuat, dengan cara masing-masing berkontribusi sesuai dengan kemampuan terbaiknya. 

Terdapat sedikitnya lima dimensi utama dalam telaah gotong royong. Pertama, dorongan sukarela menjadi energi utama hadirnya peran-peran sumber daya keolahragaan yang secara natural-spontan memberikan daya eksplosif yang tinggi. 

Fenomena sukarela bukan berarti sebentuk partisipasi yang bernilai 'murah', tetapi justru mencerminkan peran-peran sumberdaya olahraga yang memiliki passion tinggi dalam mewujudkan gotong royong. Pemilik passion tinggi ini umumnya adalah orang-orang yang sepi ing pamrih rame ing gawe, bukan rame ing pamrih sepi ing gawe. 

Kedua, keselarasan dalam gotong royong identik dengan sinergitas dan harmonisasi proses perwujudan hasil terbaik pembangunan olahraga. Ada kendala besar yang pasti mengadang tatkala interaksi gotong royong kehilangan nilai keselarasan ini. 

Terjadinya tumpang tindih kewenangan, ketidak efisienan, kerumitan birokrasi, serta persoalan teknis yang berkepentingan jangka pendek, penetrasi ego sektoral, biasanya menimbulkan iklim yang justru berujung pada situasi blunder. Acapkali berujung pada kecenderungan lahirnya dualisme, yang antara satu pihak dengan pihak yang lainnya cenderung saling meniadakan. 

Ketiga, kepedulian (caring) menjadi prasyarat dasar lahirnya gotong royong keolahragaan. Peduli merupakan kepekaan (sensitivitas) individu maupun kolektif untuk mengundang aneka respons yang sesuai. Artinya, wilayah ini adalah wilayah literasi fisik (physical literacy) yang menjadi bagian dari gerakan pencerdasan kehidupan bangsa melalui olahraga (baca: pendidikan jasmani). 

Keempat, aksi saling memperkuat dalam gotong royong dapat diilustrasikan ibarat mengakselerasi laju pergerakan gerobak yang berisi beban. Mereka yang berada di belakang gerobak sudah pasti memberi tenaga dorongan.

Mereka yang berada di depan gerobak akan memberi tenaga tarikan. Orang-orang yang memiliki kemampuan berbeda untuk memajukan olahraga, tidak bisa dipaksa melakukan hal yang sama dalam posisi yang sama.

Kelima, berkontribusi sebagai dimensi gotong royong keolahragaan merupakan bentuk “partisipasi” secara khas yang bisa dimainkan oleh setiap komponen bangsa untuk memajukan hasil pembangunan olahraga yang mengakselerasi. 

Para calon juara sudah pasti terlahir melalui 'jalur elite' dalam semesta proses pembinaan berjenjang dan bersinambungan, tetapi mereka tak akan matang paripurna dalam situasi yang eksklusif. Sesuai dengan prinsip Long-Term Athlete Development (LTAD), mereka butuh waktu 'panen' setidaknya 10 tahun untuk pantas berprestasi puncak dan menjuara. Tak ada jalan pintas dan tak ada 'sim salabim abrakadabra' dalam mencetak juara.

Kerangka Soliditas Nasional

Pada era kekinian terdapat berbagai regulasi keolahragaan yang memiliki fungsi pengikat untuk membangun soliditas nasional. Salah satu yang paling relevan dengan semangat 'Bersama mencetak Juara', adalah Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2021 Tentang Desain Besar Olahraga Nasional (DBON).

Bahkan DBON kini telah 'dinobatkan' sebagai pabrik prestasi olahraga. Sebuah instalasi blue print keolahragaan nasional yang berurusan erat dengan proses memproduksi juara. DBON memiliki tiga tujuan utama, yakni: (1) meningkatkan budaya olahraga, (2) meningkatkan kapasitas, sinergitas, dan produktivitas olahraga prestasi, dan (3) meningkatkan ekonomi nasional berbasis olahraga. Idealnya, proses produksi performa atlet elit (baca: juara), tetap tumbuh terjaga dalam satu koridor pencapaian ketiga tujuan tersebut secara simultan. 

Tanpa bermaksud menomor-duakan posisi tujuan lain, meningkatkan kapasitas, sinergitas, dan produktivitas olahraga prestasi menjadi sebuah tinjauan spesifik yang menarik. Ibarat senjata Trisula, ujung tengahnya merupakan bagian yang paling panjang. Bagian itu adalah usaha bersama untuk 'menggarisbawahi' arti soliditas nasional dalam meraih performa juara. 

Soliditas nasional adalah bentuk spesifik dari konsep gotong royong nasional yang berisi kapasitas besar, sinergitas kuat, dan produktivitas yang terjaga.

Pertama, kapasitas besar tidak selalu berarti ukuran yang besar. Artinya, prioritas dan pemfokusan perlu dilakukan dalam rangka mengefektifkan proses membidani lahirnya prestasi talenta muda berbakat luar biasa pada cabor olahraga tertentu, melalui perencanaan dan tata kelola modern yang berbasis iptek olahraga (sport science).

Kedua, sinergitas yang semakin menguat diperlukan untuk mengakselerasi capaian terbaik prestasi olahraga nasional dalam wujud sinergitas antar-stakeholder olahraga pada pilar olahraga prestasi, olahraga rekreasi, dan olahraga rekreasi (masyarakat).

Sinergitas juga perlu dibangun antara peran birokrasi pusat dan daerah, serta memberi kesempatan who does what (siapa sebaiknya melakukan apa) pada semua unsur pentahelix olahraga. Sinergi itu akan terjadi ketika birokrat, pengusaha, akademisi, komunitas, dan media memberikan kontribusi spesifik sesuai peran terbaik masing-masing.

Ketiga, produktivitas menuju prestasi olahraga berkelas dunia dilakukan dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas iklim kompetisi. Kompetisi pada tataran multi event (pekan olahraga) maupun single event (kejurda/kejurnas) 'dikocok ulang' agar semakin nyata untuk tujuan produktivitas juara paripurna. 

Dukungan iptek olahraga (sport science) dalam perspektif yang luas dan berbasis pada nilai pragmatis pengembangan performa atlet, dilakukan secara nyata melalui bukti kecukupan karya riset para akademisi olahraga, terutama di perguruan-perguruan tinggi keolahragaan. 

Dimensi performa dalam Sport Development Index (SDI) merupakan salah satu dari sembilan dimensi yang berkaitan erat dengan instrumen untuk menakar produktivitas juara. Dalam dimensi performa, setiap provinsi di Indonesia ditakar kontribusinya dalam hal memproduksi juara pada 14 cabang olahraga (cabor) prioritas olimpiade dan 5 (lima) cabor Paralimpiade sebagaimana menjadi fokus pabrik prestasi olahraga yang disebut DBON.

Tinggi rendahnya indeks performa setiap provinsi sangat tergantung pada kuantitas juara yang berhasil didulang setiap tahunnya.

Soliditas nasional menjadi tumpuan dasar formula yang memiliki perspektif keunggulan dan daya saing olahraga berwawasan kebangsaan. Kepentingan nasional lebih diprioritas dibandingkan kepentingan-kepentingan yang lebih mikro dalam tataran kewilayahan dan geografis.

Sikap 'militan' yang umumnya lebih kuat ketika 'membela' daerah, harus mulai bertransformasi dan bermetamorfosis menuju etos militansi 'membela' kepentingan nasional.

Ego sektoral yang berbasis 'kasta-kasta' cabang olahraga (cabor) pun harus dihindari, meskipun kini dikenal ada nomenklatur cabor prioritas. Cabor nonprioritas bukan berarti boleh dianggap cabor yang tak penting, karena hakikat peluang berprestasi dan menjadi juara tetap terbuka tanpa adanya diskriminasi.

Dirgahayu olahraga nasional kita, Gotong royong nasional untuk meraih juara.


Editor : Anton Suhartono

BERITA TERKAIT