“Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A di Selat Sunda yang dipantau dari Pos PGA Kalianda, Lampung, dan Pasauran, Banten. Krakatau memiliki sejarah erupsi besar dan tsunami pada 1883 serta 2018. Setelah erupsi berskala rendah berlangsung hingga Desember 2023, aktivitas erupsi kembali terjadi pada 2 Juli 2026,” ujarnya.
“Sejak 2 Juli 2026, status aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga). Seri erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik terus berlangsung hingga tanggal 3 September 2026,” tambah Lana.
Lana mengatakan, pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus selama 25 jam hingga berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Erupsi tersebut menghasilkan lava yang mengalir ke sektor barat laut-barat-barat daya.
“Analisis data citra Satelit Sentinel tanggal 15 September 2026 memperlihatkan perluasan tubuh gunungapi Anak Krakatau sebesar 32, 8 Ha. Penurunan gejala aktivitas sejak erupsi menerus mengakibatkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) tanggal 21 September 2026 pukul 18.30 WIB,” ujar Lana.
Menyikapi kemunculan dua pulau baru tersebut, Badan Geologi meminta masyarakat dan wisatawan menjauhi kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau.