Para Pemenang yang Tak Terduga
Di sisi lain, krisis ini juga menciptakan pemenang ekonomi. Negara-negara produsen minyak di luar zona perang berpotensi meraup keuntungan besar dari lonjakan harga energi. Negara seperti Norwegia, Rusia, dan Kanada berada dalam posisi relatif aman. Mereka tidak menghadapi ancaman serangan rudal atau drone, tetapi tetap menikmati keuntungan dari harga minyak yang tinggi.
Situasi ini memperlihatkan realitas keras ekonomi geopolitik: krisis bagi satu kawasan sering kali menjadi peluang ekonomi bagi kawasan lain.
Ancaman Kedua: Krisis Pangan Global
Energi bukan satu-satunya sektor yang terguncang. Gangguan di Selat Hormuz juga berdampak pada perdagangan pupuk global. Sekitar 30 persen ekspor pupuk dunia—termasuk urea, amonia, fosfat, dan sulfur—melewati jalur tersebut. Jika pengiriman pupuk terganggu, dampaknya akan menjalar ke sektor pertanian.
Harga pupuk lebih mahal berarti biaya produksi pangan meningkat. Petani harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk mempertahankan produktivitas. Pada akhirnya, biaya tambahan tersebut diteruskan kepada konsumen dalam bentuk harga pangan yang lebih tinggi.
Negara dengan sektor pertanian besar—termasuk Amerika Serikat—akan merasakan dampaknya. Efek paling menghancurkan akan terjadi di negara-negara berpendapatan rendah yang sudah menghadapi keterbatasan produktivitas pertanian. Dalam kondisi seperti itu, krisis energi dapat berubah menjadi krisis pangan global.
Kombinasi kenaikan harga pupuk dan gangguan produksi pangan berpotensi memicu kelangkaan makanan di banyak negara berkembang.
Dilema Bank Sentral Dunia
Krisis Iran juga memunculkan dilema besar bagi bank sentral di seluruh dunia. Kenaikan harga energi meningkatkan inflasi. Untuk menahan inflasi, bank sentral biasanya menaikkan suku bunga. Namun dalam situasi krisis ekonomi, suku bunga tinggi justru dapat memperlambat pertumbuhan dan meningkatkan risiko resesi.
Inilah dilema kebijakan moneter klasik: menahan inflasi atau menyelamatkan pertumbuhan ekonomi. Bahkan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, kini terbelah. Sebagian pembuat kebijakan berpendapat pasar tenaga kerja yang melemah membutuhkan suku bunga lebih rendah, sementara kelompok lain khawatir inflasi masih berada di atas target 2 persen.
Jika ekonomi terbesar dunia menghadapi kebingungan kebijakan, negara berkembang tentu akan menghadapi dilema yang lebih berat.