Indonesia Harus Siap Hadapi Kemungkinan Buruk akibat Perang di Iran, Persatuan Nasional Jadi Kunci

iNews
Presiden Prabowo Subianto mengatakan ada banyak pemimpin dunia tak mampu menjaga perdamaian. (Foto: iNews.id)

Para Pemenang yang Tak Terduga

Di sisi lain, krisis ini juga menciptakan pemenang ekonomi. Negara-negara produsen minyak di luar zona perang berpotensi meraup keuntungan besar dari lonjakan harga energi. Negara seperti Norwegia, Rusia, dan Kanada berada dalam posisi relatif aman. Mereka tidak menghadapi ancaman serangan rudal atau drone, tetapi tetap menikmati keuntungan dari harga minyak yang tinggi.

Situasi ini memperlihatkan realitas keras ekonomi geopolitik: krisis bagi satu kawasan sering kali menjadi peluang ekonomi bagi kawasan lain.

Ancaman Kedua: Krisis Pangan Global

Energi bukan satu-satunya sektor yang terguncang. Gangguan di Selat Hormuz juga berdampak pada perdagangan pupuk global. Sekitar 30 persen ekspor pupuk dunia—termasuk urea, amonia, fosfat, dan sulfur—melewati jalur tersebut. Jika pengiriman pupuk terganggu, dampaknya akan menjalar ke sektor pertanian.

Harga pupuk lebih mahal berarti biaya produksi pangan meningkat. Petani harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk mempertahankan produktivitas. Pada akhirnya, biaya tambahan tersebut diteruskan kepada konsumen dalam bentuk harga pangan yang lebih tinggi.

Negara dengan sektor pertanian besar—termasuk Amerika Serikat—akan merasakan dampaknya. Efek paling menghancurkan akan terjadi di negara-negara berpendapatan rendah yang sudah menghadapi keterbatasan produktivitas pertanian. Dalam kondisi seperti itu, krisis energi dapat berubah menjadi krisis pangan global.

Kombinasi kenaikan harga pupuk dan gangguan produksi pangan berpotensi memicu kelangkaan makanan di banyak negara berkembang.

Dilema Bank Sentral Dunia

Krisis Iran juga memunculkan dilema besar bagi bank sentral di seluruh dunia. Kenaikan harga energi meningkatkan inflasi. Untuk menahan inflasi, bank sentral biasanya menaikkan suku bunga. Namun dalam situasi krisis ekonomi, suku bunga tinggi justru dapat memperlambat pertumbuhan dan meningkatkan risiko resesi.

Inilah dilema kebijakan moneter klasik: menahan inflasi atau menyelamatkan pertumbuhan ekonomi. Bahkan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, kini terbelah. Sebagian pembuat kebijakan berpendapat pasar tenaga kerja yang melemah membutuhkan suku bunga lebih rendah, sementara kelompok lain khawatir inflasi masih berada di atas target 2 persen.

Jika ekonomi terbesar dunia menghadapi kebingungan kebijakan, negara berkembang tentu akan menghadapi dilema yang lebih berat.

Editor : Maria Christina
Artikel Terkait
Nasional
2 jam lalu

Prabowo Minta Skenario Haji 2026 di Tengah Perang AS-Israel vs Iran, Keselamatan Jemaah Prioritas!

Buletin
2 jam lalu

Bunker Rahasia Pejabat Israel Dihantam Rudal Hipersonik Iran, Warga Kocar-Kacir

Internasional
2 jam lalu

Iran Sindir Operasi Militer AS-Israel Gagal Total, Ubah Nama Jadi 'Fury Mistake'

Internasional
4 jam lalu

140 Tentara AS Luka Selama Perang Lawan Iran, 8 Tewas

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal