Indonesia Harus Siap Hadapi Kemungkinan Buruk akibat Perang di Iran, Persatuan Nasional Jadi Kunci
Energi: Senjata Ekonomi yang Paling Mematikan
Guncangan paling langsung terasa di sektor energi. Jalur strategis seperti Selat Hormuz selama puluhan tahun dikenal sebagai “arteri energi dunia.” Sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati selat sempit tersebut, atau hampir seperlima dari total konsumsi minyak global.
Ketika konflik militer mengganggu jalur ini, dampaknya sangat cepat terasa. Harga minyak yang pada akhir Februari masih berada di bawah 70 dolar AS per barel kini melonjak mendekati 120 dolar AS. Banyak analis memperkirakan harga dapat menembus 150 hingga 200 dolar AS per barel jika gangguan berlangsung lama.
Masalahnya, tidak ada kapasitas cadangan di dunia yang cukup untuk menggantikan pasokan sebesar itu. Jika aliran minyak melalui Selat Hormuz benar-benar terhenti, dunia menghadapi kekurangan energi yang tidak dapat digantikan dalam waktu singkat.
Negara-negara pengimpor energi akan menjadi korban pertama. Kawasan seperti Eropa, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, India, dan Tiongkok sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah. Lonjakan harga energi langsung meningkatkan biaya produksi, transportasi, dan konsumsi rumah tangga.
Beberapa negara mulai mengambil langkah darurat. Di India, sejumlah restoran memperingatkan kemungkinan penutupan karena pemerintah memprioritaskan distribusi gas untuk kebutuhan rumah tangga. Thailand menangguhkan perjalanan dinas ke luar negeri bagi pegawai negeri dan mendorong penghematan energi. Filipina memperkenalkan seminggu kerja empat hari untuk sebagian instansi pemerintah, sementara Vietnam mendorong masyarakat bekerja dari rumah guna mengurangi konsumsi energi.
Semua langkah tersebut menunjukkan bahwa dunia sedang memasuki fase ekonomi perang.
Negara yang Runtuh Lebih Cepat
Namun, tidak semua negara memiliki kemampuan yang sama untuk menahan guncangan energi. Negara dengan struktur ekonomi rapuh akan menjadi korban paling awal. Contoh paling nyata adalah Pakistan. Negara Asia Selatan ini mengimpor sekitar 40 persen kebutuhan energinya dan sangat bergantung pada gas alam cair dari Qatar, pasokan yang kini terganggu akibat konflik regional.
Bagi Pakistan, kenaikan harga energi bukan sekadar statistik ekonomi. Ini berarti kenaikan harga listrik, bahan bakar, dan kebutuhan pokok yang secara langsung membebani rumah tangga. Inflasi dapat melonjak tajam sementara pertumbuhan ekonomi melambat.
Ironisnya, bank sentral Pakistan tidak memiliki ruang kebijakan yang fleksibel. Alih-alih menurunkan suku bunga untuk membantu perekonomian, mereka kemungkinan justru harus menaikkannya guna menahan inflasi. Inilah dilema klasik ekonomi krisis: antara menyelamatkan pertumbuhan atau menahan kenaikan harga.