Melalui kombinasi data mengenai keberadaan lansia, anak yang masih menjadi tanggungan, serta kepala keluarga usia produktif, pemerintah dapat menyusun kebijakan berbasis data sekaligus mengidentifikasi keluarga yang membutuhkan intervensi lebih awal.
Prof. Budi menegaskan peningkatan jumlah lansia tidak seharusnya dipandang sebagai beban pembangunan, melainkan sebagai bukti meningkatnya kualitas hidup masyarakat Indonesia.
Karena itu, pemerintah mendorong penguatan jaminan hari tua, perluasan layanan kesehatan dan perawatan jangka panjang bagi lansia, peningkatan literasi keuangan, kebijakan ketenagakerjaan yang ramah keluarga, hingga pengembangan konsep active aging agar lansia tetap sehat, mandiri, produktif, dan mampu berkontribusi terhadap perekonomian.
"Melalui program SIDAYA (Lansia Berdaya), Kemendukbangga/BKKBN tidak hanya berusaha menjaga keberlanjutan bonus demografi, tetapi juga membangun masyarakat menua yang sehat, mandiri, produktif, dan sejahtera menuju Indonesia Emas 2045," kata Prof. Budi.