Insiden ini menjadi sorotan publik setelah beredar video viral yang memperlihatkan massa membubarkan kegiatan retreat keagamaan yang diikuti oleh anak-anak dan remaja Kristen. Dalam rekaman tersebut, tampak warga mencopot salib dari dinding, melempari batu, serta merusak fasilitas vila, meskipun aparat TNI dan Polri sudah berada di lokasi.
Salah satu korban perempuan yang terekam dalam video menjelaskan bahwa kegiatan tersebut hanyalah retreat pelajar Kristen saat liburan sekolah, dan tempat yang digunakan bukan gereja, melainkan vila pribadi.
“Kami sedang mengadakan retreat liburan sekolah untuk anak-anak. Tempatnya vila pribadi, bukan gereja. Tapi tiba-tiba warga datang dan melempar batu. Anak-anak panik, trauma, kami dipaksa keluar, mobil kami juga dipukul dan dilempari,” ujar korban dalam video yang viral di media sosial.
Fakta lain turut disampaikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sukabumi dan Kesbangpol yang mengklarifikasi bahwa bangunan tersebut bukan tempat ibadah, melainkan rumah tinggal. Mereka menyebut peristiwa ini telah diselesaikan secara kekeluargaan, dan warga bersedia mengganti kerusakan yang terjadi.
“Saya pertegas, itu bukan gereja atau tempat ibadah. Itu rumah tempat tinggal. Isu ini harus diluruskan,” tegas Kepala Kesbangpol, Tri Romadhono Suwardianto.
Diketahui, peristiwa dugaan intoleransi yang berakhir dengan perusakan sebuah rumah di Desa Tangkil, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, bermula dari adanya aktivitas keagamaan di vila milik Maria Veronica Nina. Di vila yang tidak dihuni secara tetap oleh Nina (70), namun kerap digunakan saat liburan atau menerima keluarga, diketahui terdapat simbol salib besar yang terpasang di taman belakang.
Menurut informasi dari warga sekitar, kegiatan ibadah mulai terpantau sejak 17 Februari 2025 dan dipelopori oleh Weddy, adik dari pemilik vila. Sejak saat itu, aktivitas keagamaan rutin dilakukan di lokasi tersebut tanpa ada pemberitahuan resmi kepada pihak lingkungan setempat atau otoritas desa. Keadaan ini kemudian memicu ketegangan yang berujung pada aksi massa dan perusakan bangunan.