"Lalu, TKP-nya pun di klinik yang sudah tidak aktif, klinik sudah lama kosong. Kemudian, kenapa Pak Sutrimo ada di situ dan meninggal dengan kondisi mulut berbusa?" ucapnya.
Sapto menilai, kondisi itu perlu ditelusuri lebih lanjut oleh aparat penegak hukum. Dia juga menyebut kondisi TKP kini menyulitkan proses pengumpulan bukti karena lokasi tersebut disebut sudah tidak lagi terjaga sebagaimana saat kejadian.
"TKP itu sudah susah untuk menyimpulkan, digaris polisi, bahkan untuk mendapatkan bukti-bukti itu sudah diacak-acak begitu. Maka itu, kami meminta agar kalau bisa diautopsi karena pihak keluarga terkesan ketakutan untuk diautopsi," ucapnya.
Dia turut mempertanyakan sikap keluarga yang hingga kini disebut belum menyampaikan laporan atau pengaduan kepada polisi terkait kematian Sutrimo. Menurutnya, ada dugaan rasa takut atau cemas yang membuat keluarga enggan berbicara mengenai kematian tersebut.
Sapto juga mengungkapkan informasi yang diterimanya terkait proses di rumah sakit. Menurutnya, jenazah Sutrimo sempat dibawa ke Rumah Sakit Muhammadiyah dan telah dipersiapkan untuk menjalani autopsi.