Meski menawarkan berbagai kemudahan, penggunaan AI di bidang kesehatan juga membawa tantangan besar, terutama soal keamanan data pasien.
Semakin banyak hasil pemeriksaan medis yang terhubung dan diproses secara digital, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga data tersebut dari ancaman keamanan siber.
Karena itu, Kemenkes mendorong fasilitas kesehatan membangun tim tanggap insiden siber untuk menjaga keamanan data yang dikirimkan ke ekosistem SatuSehat.
“Tapi ada satu hal yang harus kami jaga adalah keamanan datanya itu sendiri,” tegas Eko.
Pengembangan AI kesehatan ini pun bukan sesuatu yang sepenuhnya baru bagi Kemenkes. Pemerintah sebelumnya telah melakukan pengujian AI untuk sejumlah pemeriksaan radiologi dan menemukan potensi teknologi tersebut dalam membantu proses skrining serta diagnosis. Namun, Kemenkes tetap menempatkan tenaga medis sebagai bagian penting dalam proses pengambilan keputusan klinis.
Dengan demikian, rencana Kemenkes bukan membuat “dokter digital” yang mengambil alih pekerjaan dokter. AI lebih diarahkan menjadi mata tambahan bagi tenaga kesehatan—membantu membaca data dan gambar medis lebih cepat, terutama di wilayah yang masih kekurangan dokter spesialis.
Jika pengembangan ini berjalan sesuai rencana, kesenjangan antara kecanggihan alat medis dan ketersediaan tenaga ahli di berbagai daerah diharapkan bisa semakin dipersempit.