Yassierli berharap pusat pelatihan tersebut dapat menjadi percontohan pelatihan vokasi khusus penyandang disabilitas di Indonesia. Menurutnya, pemerintah perlu terus memperluas kesempatan agar penyandang disabilitas dapat meningkatkan keterampilan dan memperoleh akses terhadap pekerjaan.
“Kita ingin teman-teman disabilitas tersenyum dan pemerintah hadir untuk mereka,” kata Yassierli.
Manfaat pelatihan vokasi telah dirasakan Muhammad Fahri (21), seorang penyandang disabilitas tunarungu. Setelah mengikuti pelatihan barista selama satu bulan, Fahri berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah kafe.
“Manfaatnya, setelah mengikuti pelatihan, saya mendapatkan pekerjaan. Sekarang saya sudah bekerja di sebuah kafe,” ujar Fahri melalui penerjemah bahasa isyarat.
Berbekal pengalaman tersebut, Fahri mengajak penyandang disabilitas lainnya, khususnya sesama tunarungu, untuk memanfaatkan program pelatihan vokasi.