Menteri Nasir mengatakan, menciptakan mahasiswa berkarakter unggul merupakan salah satu upaya yang digagas Kemenristekdikti dalam penangkalan radikalisme di kalangan mahasiswa.
Kemenristekdikti bersama LIPI, perguruan tinggi dan peneliti-peneliti ilmu sosial hingga saat ini tengah melakukan survey radikalisme dan wawasan kebangsaan pada pelajar dan mahasiswa.“Surveinya belum selesai, namun hingga Mei 2017 pernyataan untuk siap berjihad demi tegaknya khilafah pada kelompok mahasiswa mencapai 23,4 persen dan pada pelajar 23 persen,” tuturnya.
Angka tersebut, menurut Nasir, merupakan sinyal yang harus disikapi semua pihak, baik pemerintah, perguruan tinggi, sekolah, orang tua maupun masyarakat umum tentang pentingnya menumbuhkan kembali rasa nasionalisme dan cinta Tanah Air.
Nasir menilai, lunturnya pemahaman kebangsaan, lemahnya kemampuan berpikir kritis sivitas akademika, serta muatan kurikulum yang tidak mampu mencukupi kebutuhan mahasiswa untuk menangkal radikalisme dan penyalahgunaan teknologi informasi, menjadi sebab mengapa munculnya radikalisme di lingkungan kampus.
“Hal yang harus dilakukan demi menciptakan mahasiswa berkarakter unggul adalah penguatan tri dharma perguruan tinggi, bagaimana manajemen mengelola mahasiswa dan perguruan tinggi, ini harus kita lakukan bersama-sama” ujar mantan rektor Universitas Diponegoro ini.
Untuk diketahui, sejak awal 2017 Kemenristekdikti telah menggelorakan semangat antiradikalisme, terorisme dan menanamkan kembali wawasan kebangsaan di lingkungan perguruan tinggi.
Hal ini ditandai dengan Deklarasi Anti-Radikalisme dan Terorisme di seluruh perguruan tinggi Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dan puncaknya adalah Deklarasi Anti-Radikalisme dan Terorisme yang dihadiri Presiden Joko Widodo bersama seluruh pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia pada 26 September 2017 di Bali.