Lebih Dahsyat dari Krakatau, Letusan Tambora 1815 Bikin Dunia Tanpa Musim Panas selama Setahun

Reza Fajri
Kaldera Gunung Tambora (foto: NASA)

Abu vulkanik menyelimuti Sumbawa, Lombok, Bali, hingga sebagian Jawa. Awan panas dan hujan abu memusnahkan permukiman serta lahan pertanian.

Ribuan orang meninggal akibat dampak langsung letusan, sementara puluhan ribu lainnya tewas karena kelaparan dan penyakit setelah sumber pangan hancur.

Berbagai penelitian memperkirakan jumlah korban mencapai lebih dari 70.000 jiwa, menjadikannya salah satu bencana gunung api paling mematikan dalam sejarah.

Namun, dampak Tambora tidak berhenti di Indonesia. Letusan itu melemparkan jutaan ton sulfur dioksida ke stratosfer. Gas tersebut berubah menjadi aerosol sulfat yang menyebar ke seluruh dunia dan memantulkan sebagian sinar Matahari.

Akibatnya, suhu Bumi turun dan memicu gangguan iklim global.

Dampak letusan Tambora masih berlanjut sampai setahun berikutnya yakni 1816 yang kemudian dikenang sebagai "The Year Without a Summer" atau "tahun tanpa musim panas". Di Amerika Utara, salju turun pada Juni dan Juli.

Di Eropa, cuaca dingin dan hujan berkepanjangan menyebabkan gagal panen, kelaparan, serta kerusuhan sosial.

Sejumlah peneliti juga mengaitkan perubahan iklim pascaTambora dengan penyebaran pandemi kolera pada abad ke-19.

Editor : Reza Fajri
Artikel Terkait
6 hari lalu

Gunung Anak Krakatau Erupsi 3 Kali dalam 9 Menit, Warga Dilarang Mendekat Radius 5 Km

6 hari lalu

Gunung Anak Krakatau Erupsi Pagi Ini, Status Siaga

15 hari lalu

Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Terpantau hingga 1,8 Km, Menyebar ke Arah Barat

15 hari lalu

Gunung Anak Krakatau Naik Level Siaga, Warga Dilarang Mendekat Radius 5 Km

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal