Abu vulkanik menyelimuti Sumbawa, Lombok, Bali, hingga sebagian Jawa. Awan panas dan hujan abu memusnahkan permukiman serta lahan pertanian.
Ribuan orang meninggal akibat dampak langsung letusan, sementara puluhan ribu lainnya tewas karena kelaparan dan penyakit setelah sumber pangan hancur.
Berbagai penelitian memperkirakan jumlah korban mencapai lebih dari 70.000 jiwa, menjadikannya salah satu bencana gunung api paling mematikan dalam sejarah.
Namun, dampak Tambora tidak berhenti di Indonesia. Letusan itu melemparkan jutaan ton sulfur dioksida ke stratosfer. Gas tersebut berubah menjadi aerosol sulfat yang menyebar ke seluruh dunia dan memantulkan sebagian sinar Matahari.
Akibatnya, suhu Bumi turun dan memicu gangguan iklim global.
Dampak letusan Tambora masih berlanjut sampai setahun berikutnya yakni 1816 yang kemudian dikenang sebagai "The Year Without a Summer" atau "tahun tanpa musim panas". Di Amerika Utara, salju turun pada Juni dan Juli.
Di Eropa, cuaca dingin dan hujan berkepanjangan menyebabkan gagal panen, kelaparan, serta kerusuhan sosial.
Sejumlah peneliti juga mengaitkan perubahan iklim pascaTambora dengan penyebaran pandemi kolera pada abad ke-19.