Dari sentimen domestik, ancaman perubahan status dari Emerging Market menjadi Standalone Market oleh MSCI berpotensi masih akan mendominasi, meskipun perpindahan kelas tersebut masih berupa usulan dan pengkajian serta belum pasti akan terjadi serta lonjakan harga minyak dunia yang menembus angka 110 dolar AS per barel. Namun hal tersebut telah meningkatkan ketidakpastian di pasar modal Indonesia, sehingga membuat investor cenderung menghindari risiko.
Adanya upaya dari otoritas bursa untuk melakukan penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang dianggap melakukan pelanggaran, dalam jangka pendek berpotensi meningkatkan volatilitas dan ketidakpercayaan. Namun jika diimplementasikan dengan baik, dalam jangka panjang akan kembali meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Sementara itu, pihak bursa mengumumkan penurunan batas auto rejection bawah saham dari 15 persen menjadi 7 persen, yang berlaku mulai hari Senin hingga akhir tahun, dengan tujuan membantu investor dalam pengambilan keputusan, karena sebelumnya otoritas regulator menjatuhkan denda administratif dalam jumlah besar, dengan total mencapai Rp2,1 triliun, terhadap pihak-pihak yang terkait dengan perdagangan serta penawaran umum perdana (IPO) dari tiga perusahaan besar.
Ruang gerak Bank Indonesia (BI) juga jadi perhatian. Intervensi di pasar NDF dan Domestic NDF, serta instrumen lainnya diupayakan untuk meredam volatilitas. Namun efektivitas intervensi itu akan sangat bergantung pada seberapa besar tekanan yang dihadapi dan seberapa cepat kepercayaan pulih.
Dalam kondisi seperti ini, kenaikan suku bunga acuan berpotensi jadi pilihan BI untuk menjaga daya tarik aset rupiah. Bahkan BI diperkirakan akan mengerek suku bunga acuan pada pertemuan Oktober ke 6 persen.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.040-Rp18.090 per dolar AS. Untuk sepekan ke depan diprediksi berada dalam rentang Rp17.850-Rp18.200 per dolar AS.