Besarnya risiko subsidi energi Indonesia tidak terlepas dari ketergantungan terhadap sejumlah faktor eksternal, terutama harga energi global dan nilai tukar rupiah. Terdapat tiga variabel utama yang menentukan besaran subsidi energi. Misalnya seperti harga energi di pasar global, nilai tukar rupiah, serta tingkat konsumsi energi domestik.
Pada saat yang sama, depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga membuat biaya pengadaan energi menjadi lebih mahal. Kondisi tersebut pada akhirnya meningkatkan kebutuhan anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi.
Subsidi dan konpensasi energi sampai akhir tahun subsidi dan kompensasi ini akan meningkat hingga Rp526 triliun. Dengan demikian, terdapat potensi kenaikan hampir Rp200 triliun dibandingkan alokasi awal dalam APBN yang berada di kisaran Rp338 triliun.
Selain itu, pemerintah Presiden Prabowo Subianto mempersiapkan anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) jenis tertentu dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 lebih tinggi dibandingkan perkiraan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.720-Rp17.780 per dolar AS.