"Deviasi kedua asumsi dasar ekonomi makro ini dapat berefek pada pergeseran postur APBN, baik pendapatan, belanja serta defisit. Untuk tingkat imbal hasil SBN, salah satu hal yang diwaspadai adalah efek sentimen negatif penilaian terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI)," kata Ibrahim.
Apabila merujuk pada outlook APBN pertengahan 2026, pemerintah memproyeksikan defisit fiskal melebar dari target Rp689,1 triliun (2,68 persen PDB) ke Rp734,3 triliun (2,85 persen PDB). Proyeksi defisit ini turut dirancang dengan peningkatan imbal hasil surat utang pemerintah tenor 10 tahun dari target APBN 6,9 persen ke kisaran sampai 7,1 persen.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.020-Rp18.070 per dolar AS.