Kenaikan Yesus ke Surga digambarkan oleh John Singleton Copley (1775) (Istimewa)
Maria Christina Malau

JAKARTA, iNews.id - Umat Kristiani di seluruh dunia merayakan Hari Kenaikan Isa Almasih atau Hari Kenaikan Yesus Kristus ke Surga hari ini, Kamis, 26 Mei 2022. Hari ini menjadi peringatan Yesus yang bangkit setelah wafat dan kembali kepada Bapa di surga pada hari ke-40.

Bagi umat Kristen, hari raya ini memiliki makna yang sangat penting. Dikutip dari laman katolisitas, makna Kenaikan Isa Almasih atau Kenaikan Yesus ke Surga adalah sebuah bagian esensial nyata dari penyelamatan umat manusia itu oleh Kristus. Dalam perayaan Kenaikan Yesus, umat diajak untuk melihat kodrat Allah yang menjelma menjadi manusia, yang terpenuhi di dalam pribadi Kristus secara lebih sempurna lagi. Dengan kenaikan-Nya yang mulia, Yesus memenuhi kurban penebusan-Nya.

Kenaikan Kristus juga merupakan suatu manifestasi berbeda. Yesus masuk ke dalam kemuliaan Surgawi duduk di sebelah kanan Bapa, hidup selama-lamanya untuk menjadi pengantara manusia kepada Allah. Dengan kenaikan-Nya ke Surga, Dia menyediakan tempat bagi umat manusia, agar di mana Kristus berada, kita pun berada” (Alkitab, Kis 14:2-3).

Di dalam Kopendium Katekismus Gereja Katolik (KKGK) 132 dikisahkan secara jelas sejarah kenaikan Yesus. "Sesudah 40 hari sejak Yesus menampakkan diri kepada para Rasul dalam kondisi manusia biasa, yang menutupi kemuliaan-Nya sebagai Yang Bangkit, Kristus naik ke Surga dan duduk di sebelah kanan Bapa". 

Dialah Tuhan yang memerintah dengan kemanusiaan-Nya dalam kemuliaan abadi Putra Allah dan tiada hentinya menjadi pengantara bagi kita pada Bapa. Dia mengutus Roh-Nya kepada kita dan memberi kita harapan untuk pada suatu hari mencapai tempat yang sudah disiapkan bagi kita.

Konsili Vatikan II juga mengatakan: “Karya penebusan umat manusia dan pemuliaan Allah yang sempurna itu telah diawali dengan karya agung Allah di tengah umat Perjanjian Lama. Karya itu diselesaikan oleh Kristus Tuhan, terutama dengan misteri Paska: sengsara-Nya yang suci, kebangkitan-Nya dari alam maut dan kenaikan-Nya dalam kemuliaan. Dengan misteri itu, Yesus Kristus ‘menghancurkan maut kita dengan wafat-Nya dan membangun kembali hidup kita dengan kebangkitan-Nya’.”

Jika ditelaah di dalam Injil, Kenaikan Yesus berlangsung sangat sederhana. Tidak ada yang terkesan dramatis dalam hal ini. Namun apabila kita melihat kembali dengan kacamata batin dan iman sebagai umat Kristen, kenaikan Yesus mempunyai arti tersendiri, yaitu kepercayaan kita kepada Kristus yang wafat, bangkit dan naik ke surga.

Di dalam Markus 16: 19, Luk 24: 50-53 dan Kis. 1: 9-14, peristiwa kenaikan dihubungkan sebagai penampakan terakhir Kristus yang telah bangkit. Hal ini menandai akhir dari masa kebersamaan Yesus dengan murid-murid-Nya. Para Rasul tidak bisa lagi menjamah Yesus, mendengarkan Sabda-Nya dan makan bersama Dia.

Namun, Kenaikan Kristus diartikan para Rasul bukanlah sebagai tanda perpisahan. Santo Agustinus pernah berkata "Ia tidak meninggalkan Surga, ketika Ia turun dari surga kepada kita; dan Ia tidak meninggalkan kita ketika Ia naik lagi ke Surga." 

Karena itulah mereka kembali ke Yerusalem dengan sukacita. Setelah tiba di sana, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Kis 1:13. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa wanita serta Maria, Ibu Yesus dan dengan saudara-saudara Yesus. 

Mereka sehati sesuara menantikan kedatangan Roh Kudus. Dengan peristiwa ini, iman dari para Rasul sungguh diteguhkan agar sebelum para Rasul mewartakan kabar sukacita keselamatan ke seluruh dunia, mereka harus diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi (Luk 24:49).

Dengan kenaikan Kristus pula, era kehidupan Iman yang baru telah dimulai yaitu era gereja, era persekutuan umat Allah. Dalam era kini, kita umat beriman hidup dalam pengharapan akan kedatangan Tuhan yang kedua kalinya. 

Melalui peristiwa ini, umat Kristen diajak untuk menjadi saksi Allah, untuk mewartakan Injil dan kasih Allah kepada setiap orang yang membutuhkannya. Sabda Allah pada hari Kenaikan Kristus ini menunjukkan kepada kita, bahwa Sabda Allah tidak akan menjadi apa-apa apabila tidak dilakukan dengan perbuatan nyata. 

Kita, umat beriman adalah saksi nyata dari wafat, bangkit dan kenaikan Kristus. Maka kita telah diberikan karunia oleh Kristus untuk memberitakan berita pengampunan dan pertobatan yang harus disampaikan kepada setiap orang. 

Pesan Paus Fransiskus akan Makna Hari Kenaikan Yesus

Paus Fransiskus di Lapangan Santo Petrus, 17 April 2013 lalu, dikutip dari laman katolisitas, pernah menyampaikan kehidupan duniawi Yesus memuncak dengan kenaikan-Nya, ketika Dia berpaling dari dunia ini kepada Bapa dan diangkat untuk duduk di sebelah kanan-Nya. 

Apa artinya peristiwa ini? Bagaimana hal ini mempengaruhi hidup kita? Apa artinya merenungkan Yesus yang duduk di sebelah kanan Bapa? 

Dimulai dari saat ketika Yesus memutuskan untuk melakukan ziarah terakhir ke Yerusalem. Santo Lukas mencatat: ”Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem” (Luk 9:51). 

Sementara Ia berjalan menuju ke Kota Suci, di mana kepergian-Nya dari kehidupan ini akan terjadi. Yesus sudah melihat tempat tujuan-Nya, Surga, tetapi Dia tahu betul bahwa cara yang akan membawa-Nya ke kemuliaan Bapa melewati Salib, melalui ketaatan terhadap rancangan cinta yang Ilahi bagi umat manusia. 

Katekismus Gereja Katolik menyatakan bahwa: ”Ditinggikan pada salib berarti pula ditinggikan waktu kenaikan ke surga dan peninggian pada salib sekaligus memaklumkan kenaikan ke surga itu”.

Paus Fransiskus berpesan, umat Kristen juga harus mengerti bahwa di dalam kehidupan Kristen kita untuk memasuki kemuliaan Allah diperlukan kesetiaan setiap harinya terhadap kehendak-Nya, bahkan menuntut pengorbanan dan kadang-kadang mengharuskan kita untuk mengubah rencana kita. 

Peristiwa Kenaikan Yesus sebenarnya terjadi di Bukit Zaitun, dekat dengan tempat Ia menyendiri untuk berdoa sebelum sengsara agar tetap dalam persatuan yang mendalam dengan Bapa. Sekali lagi kita melihat doalah yang memberi kita kasih karunia untuk setia terhadap rencana Allah.

Pada akhir Injilnya, Santo Lukas memberikan penjelasan yang sangat singkat dari peristiwa Kenaikan. Yesus membawa murid-murid-Nya “keluar sejauh Betania, dan dengan mengangkat tangan-Nya Dia memberkati mereka. Sementara Dia memberkati mereka, Dia berpisah dari mereka, dan terangkat menuju ke Surga. Mereka menyembah Yesus dan kembali ke Yerusalem dengan sukacita yang besar, dan senantiasa berada di dalam Bait Allah untuk memuliakan Allah”(Luk 24:50-53).

Paus Fransiskus mencatat dua hal. Pertama, selama peristiwa Kenaikan, Yesus membuat laku gerak imam yang memberkati, dan para murid tentunya menyatakan iman mereka dengan sujud. Mereka berlutut dengan kepala tertunduk. Ini adalah hal penting pertama: Yesus adalah sang Imam Agung yang dengan sengsara-Nya melewati kematian dan kubur dan naik ke surga. Dia bersama dengan Allah Bapa di mana kepada-Nya Yesus berdoa untuk kepentingan kita. 

"Seperti yang dikatakan Santo Yohanes dalam Surat Pertamanya, Ia adalah Pembela kita. Kita memiliki Satu yang selalu membela kita, yang membela kita dari jerat iblis, yang membela kita dari diri kita sendiri dan dari dosa-dosa kita," kata Paus Fransiskus.

Paus Fransiskus menekankan, kita memiliki Sang Pembela ini. Janganlah kita takut untuk berpaling kepada-Nya untuk mohon ampun, untuk meminta berkat, untuk meminta belas kasihan. Dia selalu memaafkan kita, Dia adalah Pembela kita dan selalu membela kita.

Peristiwa Kenaikan Yesus ke Surga mengingatkan kita terhadap kenyataan yang sangat menghibur di perjalanan kita; Dalam Kristus, Allah sejati dan manusia sejati, kemanusiaan kita dibawa kepada Allah.

"Kristus membuka jalan bagi kita. Dia seperti pemandu bertali mendaki gunung yang setelah mencapai puncak, menarik kita ke arahnya dan membawa kita kepada Allah. Jika kita mempercayakan hidup kita kepada-Nya, jika kita membiarkan diri dibimbing oleh-Nya, kita pasti akan berada di tangan yang aman, di tangan Juru Selamat kita, Pembela kita," kata Paus Fransiskus.

Hal kedua: Santo Lukas mengatakan bahwa setelah melihat Yesus naik ke surga, para rasul kembali ke Yerusalem dengan sukacita yang besar. Hal ini tampaknya sedikit aneh. Ketika kita terpisah dari saudara-saudari kita, dari teman-teman kita, karena suatu kepergian yang pasti, khususnya kematian, biasanya ada kesedihan alami dalam diri kita karena tidak akan lagi melihat wajah mereka, tidak lagi mendengar suara mereka, atau menikmati cinta dan kehadiran mereka. Sang Penginjil sebaliknya menekankan sukacita mendalam dari Para Rasul.

Tapi bagaimana ini mungkin? Justru dengan tatapan iman mereka memahami bahwa meskipun Dia telah hilang dari pandangan mereka, Yesus tetap bersama dengan mereka untuk selama-lamanya, Dia tidak meninggalkan mereka dan dalam kemuliaan Bapa mendukung mereka, membimbing mereka dan menjadi perantara bagi mereka

Santo Lukas juga menceritakan peristiwa Kenaikan Yesus pada awal Kisah Para Rasul untuk menekankan bahwa peristiwa ini seperti mata rantai yang menghubungkan kehidupan Yesus di bumi dengan kehidupan Gereja. Di sini Santo Lukas juga berbicara tentang awan yang menyembunyikan Yesus dari pandangan para murid, yang berdiri menatap-Nya naik menuju Allah (Kis 1:9-10). 

Kemudian dua orang berjubah putih muncul dan meminta mereka untuk tidak berdiri di sana menengadah ke langit, tetapi untuk memelihara kehidupan mereka dan kesaksian mereka dengan kepastian bahwa Yesus akan datang kembali dengan cara yang sama seperti saat Dia naik ke surga (bdk. Kis 1:10-11). 

Ini adalah undangan untuk mendasarkan perenungan kita pada keTuhanan Kristus, untuk menemukan dalam diri-Nya kekuatan untuk menyebarkan Injil dan bersaksi mengenai hal itu dalam kehidupan sehari-hari: merenungkan dan aksi, bekerja dan berdoa.

Peristiwa Kenaikan tidak menunjuk kepada absennya Yesus, tetapi mengatakan bahwa Dia masih hidup di tengah-tengah kita dengan cara yang baru. Dia tidak lagi berada di tempat tertentu di dunia seperti sebelum Peristiwa Kenaikan. Dia sekarang dalam keTuhanan Allah, hadir di setiap ruang dan waktu, dekat dengan kita masing-masing. 

"Dalam hidup kita, kita tidak pernah sendirian. Kita memiliki Sang Pembela ini yang menanti kita, yang membela kita. Kita tidak pernah sendirian: Tuhan yang telah disalibkan dan bangkit menuntun kita," kata Paus Fransiskus. 


Editor : Maria Christina

BERITA TERKAIT