“Nah, yang menarik adalah orang tua dari anak tersebut, ini perlu menjadi penelitian, jadi di kantong-kantong jadi banyak perkawinan anak itu terjadi ini orang tuanya banyak yang menjadi pekerja migran Indonesia di Malaysia, di Arab Saudi, di Taiwan, dan di Hongkong. Tapi ini akan kami tindak lanjuti, akan kami kaji lebih lanjut,” katanya.
Oleh karena itu, Femmy meminta hal ini perlu mendapatkan perhatian dari pemangku kepentingan, tidak hanya pemerintah pusat, pemerintah daerah, kabupaten kota, bahkan sampai desa.
“Karena anak-anak itu tersebar di masa saja, dan yang penting adalah dari orang tua, karena mereka itu masih usia anak. Mereka itu harusnya berada di dekat orang tuanya,” katanya.
Femmy pun mengatakan bahwa penyebab utamanya adalah kekosongan dalam pengasuhan anak.
“Kita tahu bahwa Jawa Timur merupakan daerah dengan pekerja migran tertinggi ke Malaysia, tentunya negara-negara lain, Jawa Tengah, Jawa Barat, nah ini sementara yang bisa menjadi salah satu hal mengapa perkawinan anak di tiga daerah itu tinggi,” ujarnya.