Dari situlah jiwa jurnalisnya terdorong dengan menulis karangan-karangan yang berisi tangkisan atas penghinaan Belanda. Artikel-artikel yang ditulisnya dikirim ke De Express, harian Belanda yang dipimpin Douwes Dekker.
Selain dunia jurnalistik, Abdul Moeis mempunyai ketertarikan pada dunia politik. Hal inilah yang membuat ia bergabung dalam Serikat Islam (SI). Dilansir dari Sindonews, Abdul Moeis anggota pengurus besar SI. Hal itu tertulis dalam buku yang berjudul Pahlawan-Pahlawan Bangsa yang Terlupakan karya Johan Prasetya (2014).
Dalam berbagai kesempatan, Abdul Moeis selalu memperjuangkan nasib rakyat Indonesia dengan berbagai cara. Salah satunya ketika ia mempengaruhi tokoh-tokoh politik Belanda untuk membangun sekolah tinggi teknologi di Indonesia, ketika ia dikirim ke Belanda untuk perwakilan Komite Ketahanan Hindia Belanda (Indie Weerbar).
Berkat perjuangannya, sekolah itu pun berhasil didirikan yang sekarang lebih dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB).
Sekembalinya dari Belanda, Abdul Moeis meneruskan karier jurnalistiknya dengan bekerja di harian Neraca. Selain itu, ia juga memimpin harian Utusan Melayu dan Perobahan. Melalui surat kabar itulah, Abdul menyebarkan tulisannya yang melawan penjajahan Belanda.
Abdul juga turut terlibat dalam peristiwa pemogokan massal di Yogyakarta yang membuat dirinya ditangkap dan diasingkan ke Garut pada 1927. Selama di Garut inilah Abdul menulis sebuah karya sastra populer yang berjudul Salah Asuhan.
Pada masa kependudukan Jepang, nama Abdul jarang terdengar akibat penyakit yang mengerogotinya. Namun, setelah pascakemerdekaan, namanya kembali terdengar. Abdul bergabung dalam Majelis Persatuan Perjuangan Priangan yang berpusat di Wanaraja. Bahkan, ia sempat ditawari untuk menjadi anggota DPA.
Abdul Moeis menghembuskan napas terakhirnya pada 17 Juni 1959 di Bandung. Atas jasa-jasanya, ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tanggal 30 Agustus 1959.