JAKARTA, iNews.id - Aktivitas Gunung Anak Krakatau mereda setelah erupsi besar terjadi pada 3 September 2026. Saat ini, hanya tersisa aktivitas kegempaan dan asap putih sisa erupsi.
Dari sisa aktivitas tersebut, muncul fenomena yang disebut sebagai 'telur ceplok' di area Gunung Anak Krakatau. Fenomena tersebut berupa pola warna kuning dan putih di area kawah.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan fenomena tersebut berkaitan dengan interaksi air, gas vulkanik, serta batuan dan mineral di lingkungan kawah.
"Fenomena kawah Anak Krakatau yang tampak seperti telur ceplok terjadi karena interaksi antara air yang menggenang di dasar kawah dengan gas vulkanik, terutama senyawa sulfur atau belerang, serta batuan dan mineral hasil alterasi hidrotermal. Warna kuning pada bagian tengah berkaitan dengan sulfur dan material mineral yang terbentuk atau terlarut akibat aktivitas vulkanik, sedangkan bagian putih di sekelilingnya merupakan batuan dan mineral yang mengalami alterasi oleh fluida serta gas panas," kata Daryono dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).
Dia menjelaskan, genangan air berada di bagian terendah kawah. Sementara itu, proses kimia dan pengendapan mineral di sekitarnya menghasilkan kontras warna yang jika dilihat dari udara menyerupai kuning telur dan putih telur.