Namun, Budiman mengakui Indonesia masih memiliki sejumlah kelemahan struktural yang berpengaruh terhadap daya saing ekonomi. Dia menilai kondisi tersebut merupakan warisan dari pendekatan ekonomi yang selama bertahun-tahun lebih menekankan liberalisasi pasar dan perdagangan.
Menurutnya, model pembangunan tersebut membuat Indonesia lebih banyak berperan sebagai pemasok bahan mentah dalam rantai pasok global dibandingkan sebagai produsen barang bernilai tambah tinggi.
"Ada kelemahan. Itu warisan karena kita sekian lama menjadi pasien dari pendekatan-pendekatan monetaris, liberalisasi pasar, liberalisasi perdagangan, yang menempatkan Indonesia dalam rantai pasok global di posisi untuk ekonominya tebang, gelondongan, jual," ujarnya.
Budiman menilai, posisi tersebut membuat Indonesia belum memperoleh manfaat maksimal dari aktivitas ekonomi global. Karena itu, dia mendorong transformasi ekonomi yang mampu meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri sekaligus memperkuat produktivitas nasional.
"Dalam rantai pasok global selalu kita ditempatkan di situ," tuturnya.