“Gagasannya adalah bahwa visi Nahdlatul Ulama ini sebetulnya sebangun dengan visi proklamasi kemerdekaan, yaitu memperjuangkan peradaban yang mulia bagi seluruh umat manusia,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Yahya juga menanggapi sikap Presiden Prabowo yang memutuskan bergabung dalam Board of Peace untuk perdamaian Palestina, meski menuai kontroversi.
“Tapi dalam pandangan kami, dalam pandangan kami, saya sudah pernah menyatakan begitu berkali-kali sebetulnya, dan selama ini saya ulang-ulang, bahwa membantu Palestina adalah bagian dari amanat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia,” ucap Gus Yahya.
Dia menambahkan, kehadiran Indonesia dalam forum internasional tersebut penting agar ada pihak yang secara konsisten menyuarakan kepentingan rakyat Palestina.
“Menurut saya, keputusan Presiden untuk bergabung di dalam Board of Peace ini, saya kira adalah keputusan yang tepat berdasarkan komitmen yang abadi untuk membantu Palestina,” ujarnya.
“Telah dinyatakan bahwa Board of Peace ini dibuat untuk menjadi wahana membicarakan tentang perdamaian di Palestina, untuk Palestina. Kalau tidak ada pihak yang sungguh-sungguh, sungguh-sungguh punya komitmen membantu Palestina ada di dalamnya, siapa yang akan bersuara demi Palestina,” tuturnya.