Kemudian, dijelaskan stereotipe Padang pelit ternyata telah terjadi secara turun-menurun. Menurut Purwasito dalam (Shoelhi 2015) stereotip dibangun oleh kelompok masyarakat dari waktu ke waktu dan mengandung kerangka interpretasi berdasarkan lingkungan budaya.
Jadi, stereotipe merupakan referensi pertama atau penilaian umum seseorang atau kelompok kepada kelompok lain. Sehingga, kasus stereotipe Padang pelit dinilai sudah menyebar dari mulut ke mulut karena pengalaman etnis lain berinteraksi dengan etnis Minang.
Pengalaman tersebut pun diceritakan kepada orang lain, dan pandangan tersebut akhirnya malah digeneralisasikan oleh semua orang di mana orang Padang memiliki watak pelit. Padahal hal tersebut tidak berdasar.
Selain faktor turun-temurun, stereotipe Padang pelit juga tersebar dari mulut ke mulut akibat masyarakat yang malas mengonfirmasi. Media dianggap juga ikut menyebarkan stereotip yang salah kaprah.
Dalam buku 'Majelis Tidak Alim' karya Soleh Solihun, dijelaskan stereotipe orang Padang pelit adalah keliru. Hal ini karena orang Padang dikenal pandai berdagang dan berhitung sehingga sikap penuh perhitungan tersebut yang membuat orang salah menilai.
Sehingga, dipastikan stereotipe Padang pelit muncul secara turun-temurun, dari mulut ke mulut dan dari media. Nah, jadi jangan sampai salah kaprah lagi ya soal watak orang Padang!