Bahrun Naim disebut-sebut sebagai dalang dan penyandang dana sejumlah serangan teror di Indonesia termasuk bom Sarinah pada 2016. Berdasarkan penyelidikan polisi, aksi terorisme itu dikendalikannya dari Raqqa, Suriah.
Jenderal Pol (Purn) Badrodin Haiti saat menjabat Kapolri pernah menyebutkan jaringan pro-ISIS di Indonesia memilik empat pemimpin inti. Mereka yakni, Bahrumsyah, Bahrun Naim, dan Salim Mubarok At-Tamimi atau Abu Jandal yang kesemuanya dipimpin Aman Abdurrahman. Anggota kelima yakni Santoso, pemimpin Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang telah tewas ditembak Densus 88 Antiteror Polri.
Jauh sebelum melakukan aksinya, pada 2010 dia ditangkap polisi di Solo seusai mengambil kiriman peluru titipan kawannya. Bahrun divonis 2,5 tahun penjara atas pelanggaran Undang-Undang Darurat. Pada 2014 dia pergi ke Suriah.
Pada Juli 2017 Bahrun Naim masuk daftar figur penerima sanksi Dewan Keamanan PBB. Dia dianggap berpartisipasi dalam pembiayaan, perencanaan, memfasilitasi, mempersiapkan, atau melakukan tindakan atau kegiatan untuk mendukung ISIS dan merekrut orang-orang untuk organisasi teror.
Sesungguhnya bukan sekali ini saja Bahrun Naim dikabarkan tewas. Pada November lalu juga muncul informasi tentang kematian pria lulusan D3 jurusan ilmu komputer itu. Namun kabar tersebut tidak pernah terkonfirmasi.
Merespons laporan terbaru Channel News Asia tentang kematian Bahrun Naim, Mabes Polri mengaku belum dapat memastikan kebenarannya. "Saya tidak bisa berkomentar jika belum ada data yang akurat," ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto kepada The Straits Times, Kamis (5/7/2018).