Salah satu contoh bagaimana MBG menggerakkan ekonomi lokal di Kota Pekanbaru disampaikan Mitra SPPG, Kecamatan Bukit Raya, Windra Pricindi Anatasia. Menurut Windra, kebutuhan bahan pangan di dapur SPPG meningkat secara signifikan, sehingga para mitra harus menambah tenaga kerja baru untuk proses pengemasan hingga pengiriman.
"Seluruh pelaku UMKM yang terlibat wajib menyediakan bahan baku kualitas premium. Mulai dari tempe, tahu, ayam, ikan, sayuran, buah, hingga bahan lainnya. Kebutuhan bahan baku mendekati 4.000 kilogram per hari. Untuk ayam saja 300–350 kilogram, sementara sayuran 100–200 kilogram setiap hari," ujarnya.
Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menyarankan perlunya sinergi pemerintah dengan UMKM atau katering yang sudah berjalan. Hal ini agar program MBG bisa menggerakkan roda perekonomian mengingat UMKM sudah bekerja sama dengan supplier lokal.
“Program MBG ini bisa menggerakkan roda perekonomian lokal itu tergantung dari seberapa banyak pihak yang dilibatkan dan juga model dapurnya. Sebetulnya ini kan kita bisa memanfaatkan dapur existing yang milik UMKM, hanya saja ada standarisasi,” ujar Eliza.
Dapur UMKM atau kantin sekolah, menurut dia, bisa dimanfaatkan dan tidak perlu investasi terlalu besar untuk meningkatkan standar kualitas dan kebersihannya.
“Tinggal mereka dilatih bagaimana untuk memproduksi makanan yang higienis. Yang paling penting ini adalah kalau misalkan UMKM dilibatkan ini kan akan sangat baik menggerakkan roda perekonomian lokal,” tutur Eliza.