Selain mendapat gambaran dari satelit milik BMKG dan Satelit Volcanic Ash Australia Center (VAAC) di Darwin, Kemenhub juga menerima laporan abu vulkanik dari para pilot yang sedang mengudara.
Sementara itu, Dirjen Perhubungan Udara Praminto Hadi mengungkapkan, hasil dari setiap laporan yang masuk akan diolah oleh otoritas bandara dan stakeholder terkait, termasuk untuk menetapkan apakah bandara akan tetap dibuka atau ditutup sementara.
"Sementara guna mengantisipasi adanya gangguan angkutan udara akibat sebaran abu vulkanik, Kemenhub menyiapkan sebanyak 10 bandara alternatif serta moda angkutan lainnya. Baik yang menuju Bali atau pun sebaliknya, " ucap Praminto di Jakarta.