Penyerahan Kognitif dan Pabrikasi Ingatan Palsu: Distopia Artificial Intelligence?

Tim iNews.id
Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital, Dr. Firman Kurniawan S. (Foto: Dok Pribadi)

Hal yang terjadi di atas dijelaskan secara terpisah oleh Profesor Pattie Maes dari Media Lab Massachusetts Institute of Technology (MIT). Maes mengemukakan temuan terbarunya berdasarkan penelitian yang dilakukannya selama bertahun-tahun menyangkut pengaruh AI terhadap kognisi manusia. Dengan menggunakan gambar dan video yang dihasilkan AI dari gambar asli, Maes dan timnya melakukan eksperimen pada sekelompok subjek.

Dalam eksperimen tersebut, peserta diperlihatkan foto atau video asli, kemudian ditunjukkan gambar atau video yang telah diubah menggunakan AI. Kelompok subjek yang terpapar materi hasil manipulasi AI secara berulang mengalami distorsi ingatan yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok yang tidak terpapar. Keyakinannya juga menguat pada kelompok yang telah diubah ingatannya dibandingkan dengan kelompok subjek kontrol. Subjek kontrol tidak diperlihatkan gambar atau video yang dimanipulasi AI.

Eksperimen lain yang juga dilakukan pada 2026 ditulis oleh para ilmuwan dari Carnegie Mellon, MIT, Oxford, UCLA, dan UC Berkeley. Temuannya senada, yakni orang yang telah bergantung pada AI menunjukkan kinerja yang lebih buruk dalam menyelesaikan tugas dibandingkan dengan orang yang tidak menggunakan large language model (LLM) sebagai basis interaksinya dengan AI.

Sementara itu, penelitian lain yang dilakukan David Strömberg, Victor Lei, dan Yanhui Wu pada 2026, berjudul “The Generative AI Learning Penalty: Evidence from Chinese Secondary Education”, juga menghasilkan temuan yang mengkhawatirkan. Penelitian tersebut menggunakan data selama 30 bulan dari 26.811 siswa kelas VII hingga XII di Tiongkok. Hasilnya menunjukkan dampak buruk penggunaan generative AI terhadap hasil pendidikan, terutama produktivitas dalam menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) dan hasil belajar siswa. AI memang mempercepat penyelesaian PR dengan jawaban yang mengagumkan. Namun, ketika siswa dihadapkan pada ujian mandiri—yang melarang penggunaan alat bantu, termasuk AI—hasilnya justru buruk. Hal ini menunjukkan AI memang dapat meningkatkan nilai PR, namun merusak hasil ujian yang dikerjakan tanpa melibatkan penggunaannya. Ketergantungan pada teknologi secara sistemis dapat berdampak buruk terhadap hasil pembelajaran.

Penelitian yang dilakukan Nataliya Kosmyna, Eugene Hauptmann, Ye Tong Yuan, Jessica Situ, Xian-Hao Liao, Ashly Vivian Beresnitzky, Iris Braunstein, dan Pattie Maes pada 2025, berjudul “Your Brain on ChatGPT: Accumulation of Cognitive Debt when Using an AI Assistant for Essay Writing Task”, mengonfirmasi terjadinya penurunan kemampuan kognitif lantaran cognitive surrender pada AI. Eksperimen dilakukan dengan memberi tugas penulisan esai kepada tiga kelompok. Kelompok pertama menulis esai dengan bantuan ChatGPT, kelompok kedua diizinkan menggunakan search engine, sedangkan kelompok ketiga hanya mengandalkan kemampuan berpikirnya sendiri.

Editor : Maria Christina
Artikel Terkait
1 tahun lalu

Dapatkah Rasionalitas Berpikir Bertahan di Zaman Artificial Intelligence? 

1 tahun lalu

Aksi Artificial Intelligence Memerangi Korupsi

1 tahun lalu

"Efek Kupu-Kupu" Artificial Intelligence pada Nasib Peradaban

1 tahun lalu

Urgensi Aturan Perlindungan terhadap Bahaya Artificial Intelligence

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal