Pengamat militer dan intelijen, Dr Susaningtyas NH Kertopati mengatakan kecelakaan pesawat tempur T50-i Golden Eagle di Desa Nginggil, Kaupaten Blora, Jawa Tengah, Senin (18/7/2022) harus diinvestigasi. (Foto: Istimewa)
Felldy Utama

JAKARTA, iNews.id - Pesawat tempur T50-i Golden Eagle dari Skuadron Udara 15 TNI Angkatan Udara (AU) jatuh di Desa Nginggil, Kaupaten Blora, Jawa Tengah, Senin (18/7/2022) pukul 19.25 WIB. Jet tempur dari Pangkalan Udara Utama TNI AU Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur itu sempat hilang kontak.

Pesawat dengan tail number TT-5009 itu mengalami kecelakaan saat melakukan latihan malam atau "night tactical intercept". Pengamat militer dan intelijen, Dr Susaningtyas NH Kertopati (Nuning) menegaskan kecelakaan itu tetap harus diinvestigasi.

"Jatuhnya pesawat tersebut tetap harus diinvestigasi. Ini bukan masalah tidak baru dan teknis. Ini bisa menjadi embrio modernisasi. Jatuhnya pesawat banyak variabel (penyebabnya). Kita tidak bisa mengesampingkan investigasi," katanya, Selasa (10/7/2022).

Dengan investigasi, Nuning mengatakan penyebab detail kecelakaan bisa diketahui. Apakah karena human error, kelebihan beban, cuaca buruk atau perawatan tidak paripurna. 

Dia menjelaskan setiap operasi penerbangan tentu ada Kirka atau perkiraan keadaan. Bila hasil kirka sudah layak terbang tapi jatuh maka probabilitas faktor luar tak terduga harus diobservasi.

Nuning menyebut alutsista Indonesia sudah harus dimodernisasi atau ditingkatkan perawatannya. Namun menurutnya kecelakaan pesawat tersebut bukan sekadar persoalan baru atau tidak barunya alutsista.

"Jatuhnya pesawat tidak hanya masalah baru atau tidak baru. Atau layak dan tidak layak. Tetapi, kita harus melihat juga proses modernisasi politik anggaran seperti apa bagi alutsista militer," ucapnya.

Di akhir pesannya, Nuning menyampaikan turut berduka cita atas wafatnya Lettu Pnb Allan Safitra Indra Wahyudi yang gugur dalam kecelakaan pesawat di Blora tersebut. 


Editor : Rizal Bomantama

BERITA TERKAIT