Proyek tersebut memiliki nilai investasi sebesar 5,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp95 triliun, dengan kapasitas produksi yang diperkirakan mencapai 15 gigawatt-jam (GWh) per tahun.
Proyek ini dikembangkan melalui konsorsium Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL) bersama Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC). CBL merupakan perusahaan patungan yang melibatkan CATL, Brunp, dan Lygend.
Bahlil mengatakan, tambahan fasilitas tersebut akan memperkuat kapasitas produksi baterai kendaraan listrik di Indonesia. Dia juga menyebut sejumlah fasilitas baterai lain yang telah dikembangkan di dalam negeri, termasuk pabrik sel baterai HLI Green Power di Karawang.
Menurutnya, pengembangan fasilitas baterai dalam negeri diharapkan mendorong terbentuknya ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi. Selain membuka lapangan kerja, upaya tersebut juga ditujukan untuk mendukung elektrifikasi kendaraan dan mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
"Ekosistem baterai mobil kita sudah benar-benar terintegrasi, mulai dari pertambangan (mining), peleburan (smelter), HPAL, prekursor, katoda, hingga sel baterai (battery cell)," ucapnya.