Jacob menjadi asisten mahasiswa untuk Anatomi Manusia pada tahun 1953 sampai 1954 selama menjadi mahasiswa fakultas kedokteran, dan dilanjutkan sebagai Asisten Mahasiswa untuk Antropologi dari tahun 1954 sampai 1956.
Dikutip dari buku Rektor-Rektor Universitas Gadjah Mada: Biografi Pendidikan, beliau merupakan lulusan Fakultas Kedokteran (FK) UGM pada 1956 dan kemudian tahun berikutnya melanjutkan pendidikan di Universitas Arizona, lalu Howard University.
Pengabdiannya pada UGM dimulai dengan menjadi dosen. Tidak butuh waktu lama baginya untuk naik ke jabatan Sekretaris FK UGM pada tahun 1973—1975 sebelum akhirnya naik menjadi Dekan pada tahun 1975.
Jacob akhirnya mengemban jabatan sebagai Rektor UGM pada Desember 1981. Dalam biografinya tersebut, Aprinus Salam menulis pria kelahiran Aceh ini sebagai sosok dengan khazanah keilmuannya yang luas.
Hal ini dapat dilihat dari sejumlah gelar yang dicapainya, karya yang dihasilkan, dan juga beragamnya relasi profesional yang ia miliki. Jacob disebut sebagai pakar dalam bidang antropologi budaya, lingkungan, arkeologi, biologi, paleoantropologi, biopolitik, polemologi, dan lain sebagainya.
Jacob banyak mengabdikan hidupnya bagi ilmu pengetahuan. Namun, asma yang diidapnya membuatnya tidak tahan dengan bau mayat. Akhirnya dia memilih ilmu Antropologi Ragawi.
Pengabdiannya pada bidang inilah yang mengantarkannya membuka pengetahuan baru bagi umat manusia dengan penemuan fosil Homo erectus Jawa di Sangiran pada 1962 dan Homo floresiensis di Liang Bua, Pulau Flores. Penemuan Jacob membantunya membantah hipotesis yang menyebutkan manusia purba Jawa memiliki kebiasaan memenggal dalam praktik kanibalisme.
Jacob meninggal dunia pada Rabu, 17 Oktober 2007 pukul 17.45 WIB di Rumah Sakit Dr Sardjito, Yogyakarta akibat komplikasi penyakit lever. Almarhum dimakamkan pada hari Kamis, 18 Oktober 2007 pukul 13.00 WIB di pemakaman keluarga UGM Sawit Sari.
Di pojok selatan kampus UGM terdapat gedung tiga tingkat yang didominasi cat warna putih cerah. Sedikit unik, dia area teras depan gedung terdapat patung manusia purba. Gedung ini diberi nama Gedung T Jacob, lokasi Museum Bio-Paleoantropologi.