Aan mengatakan, koordinasi dan komunikasi lintas instansi menjadi kunci dalam menghadapi peningkatan pergerakan masyarakat selama periode Nataru. Kemenhub juga memperkuat kesiapan transportasi darat melalui pemeriksaan kelaikan kendaraan atau ramp check, terutama terhadap bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dan bus pariwisata.
Selain pemeriksaan kendaraan, pemerintah akan mengecek kesiapan pengemudi dan terminal. Pemetaan titik rawan kecelakaan serta kemacetan juga disiapkan untuk mengantisipasi gangguan perjalanan.
Pengawasan terhadap kendaraan angkutan barang turut menjadi bagian dari strategi pengendalian lalu lintas. Dalam pelaksanaannya, Kemenhub berkoordinasi dengan TNI, Korlantas Polri, Kementerian Pekerjaan Umum, BMKG, pengelola jalan tol, dan pemerintah daerah.
Menurut Aan, lonjakan mobilitas berpotensi meningkatkan kepadatan di ruas jalan utama dan sejumlah kawasan dengan aktivitas tinggi. Lokasi yang menjadi perhatian antara lain kawasan industri, terminal, stasiun, pelabuhan, dan bandara.
"Kita perlu mengantisipasi lonjakan mobilitas yang berpotensi meningkatkan kepadatan pada ruas jalan utama, kawasan industri, terminal, stasiun, pelabuhan dan bandara. Harus dilakukan pemetaan titik rawan dan skema pengalihan arus dengan keselamatan menjadi prioritas utama," katanya.
Pemetaan titik rawan dan penyiapan skema pengalihan arus diharapkan membantu mengurai kepadatan selama masa angkutan Nataru. Kemenhub menegaskan, keselamatan pengguna jalan tetap menjadi prioritas dalam persiapan menghadapi libur Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.