Keyakinan Purbaya didasarkan pada performa ekonomi yang terus menunjukkan tren positif. Setelah mencatatkan pertumbuhan di kisaran 5,45 persen pada kuartal keempat tahun lalu, pemerintah berkomitmen mendorong akselerasi pertumbuhan lebih tinggi lagi.
"Kalau nanti ekonominya membaik terus, harusnya rupiah kan menguat juga, hampir otomatis. Kenapa? Karena modal-modal asing akan masuk. Mereka akan masuk ke negara yang menjanjikan pertumbuhan yang lebih tinggi," tambahnya.
Optimistis Purbaya sejalan dengan langkah Bank Indonesia (BI). Sebelumnya, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea menyatakan bahwa pelemahan Rupiah yang menyentuh level Rp16.860 per dolar AS pada Selasa (13/1/2026) lebih disebabkan oleh tekanan eksternal dan tensi geopolitik global.
"Stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia yang terus dilakukan secara berkesinambungan melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder," jelas Erwin.