Kemudian, selain penetration price, biaya produksi Mixue juga dalam skala ekonomis yang baik. Pasalnya, Mixue memiliki banyak cabang sehingga perusahaan tersebut memerlukan banyak kebutuhan untuk produksi dengan biaya produksi menjadi lebih rendah.
“Misalnya, kita mau beli packaging-nya, kalau kita cuman memproduksi ratusan unit dengan memproduksi ribuan unit, harganya akan lebih murah ribuan unit. Kekuatan utamanya itu pricing murah, low cost, dan sistem franchise sehingga semua diurusi oleh masing-masing cabang,” kata Hartini.
Lalu, produk Mixue juga memiliki rasa yang tidak kalah dari produk-produk pesaing lainnya. Meskipun dijual dengan harga yang murah, Mixue justru berhasil membuat produk yang bagus dan mampu bersaing di pasaran.
Selanjutnya place, distribusi perusahaan Mixue berhasil mengandalkan kekuatan relationship atau kemitraan yang banyak sehingga tidak membutuhkan tempat yang mahal dan bagus. Melainkan, tempat yang ramai dan strategis sehingga hal itulah yang membuat ekspansi Mixue makin masif.
Hartini menjelskan tools yang berhasil dipenuhi Mixue adalah promotion. Mixue menggunakan sosial media marketing seperti Instagram, Tiktok, dan sebagainya sehingga produknya mudah dikenal banyak orang dan viral.
Sementara itu, ia menilai eksistensi Mixue akan berdampak terhadap gerai-gerai es krim dan minuman lainnya yang sudah ada di Indonesia, meskipun setiap produk memiliki target pasar yang berbeda. Hanya saja, jika pasar-pasar tersebut tidak dijaga, maka kemungkinan akan beralih ke Mixue.
“Terlebih kondisi saat ini semuanya serba viral dan krisis moneter sehingga semua orang memiliki sensitivitas harga yang tinggi. Jadi, perusahaan lokal harus berbenah, harus meng-create produk baru dan terus berinovasi,” ujar dia.