“Bahkan sebenarnya gapnya cukup besar, terutama di Desil-1 yang paling miskin. Jadi ketika dia non-penerima MBG, dia akan sering absen, sementara kalau penerima MBG dia akan relatif tidak absen ke sekolah, dan ini semakin tinggi berkurangnya absen seiring dengan intensitas penerimaan MBG di sekolahnya. Jadi saya kira ini satu hal yang positif,” tutur Firman.
Selain kehadiran siswa, kajian DEN juga menemukan hubungan antara kualitas menu MBG dan semangat belajar anak. Sebanyak 95 persen siswa penerima MBG yang menilai kualitas menu sangat baik menyatakan semangat belajar mereka meningkat.
Sebaliknya, persentase siswa yang merasakan peningkatan semangat belajar menurun secara signifikan ketika kualitas menu dinilai buruk.
“Artinya memang salah satu rekomendasi kami ke Bapak Presiden yang tadi kami sampaikan, perlu diperhatikan kualitas menu MBG karena ini berkorelasi dengan rasa lapar dan semangat belajar anak di sekolah,” ungkap Firman.
Temuan tersebut menjadi salah satu dasar rekomendasi DEN kepada Presiden Prabowo untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan program MBG. Selain kualitas menu, pemerataan distribusi penerima manfaat juga menjadi perhatian pemerintah.
Berdasarkan data Susenas periode September, Firman mengatakan penerima MBG masih cenderung terkonsentrasi di wilayah perkotaan dibandingkan dengan perdesaan.
“Artinya perlu ada prioritas yang lebih baik, terutama untuk daerah 3T, daerah pedesaan, dan masyarakat miskin. Karena sekali lagi tadi studi kita menunjukkan bagaimana program ini sebenarnya mampu menurunkan absensi siswa ke sekolah dan meningkatkan semangat belajar dan mengurangi rasa lapar mereka di sekolah,” pungkas Firman.