JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan, Jumat (16/10/2026). Rupiah turun 89 poin atau ke Rp18.027 per dolar AS.
Mata uang garuda di pasar spot bahkan sempat terperosok hingga 140 poin sebelum akhirnya pelemahan sedikit terkikis menjelang penutupan.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menyebut, tekanan ganda dari sentimen global dan isu degradasi pasar modal Indonesia oleh MSCI melukai kinerja nilai tukar rupiah hingga akhir pekan. Kondisi ini diproyeksikan masih terus membayangi pergerakan mata uang Garuda pada perdagangan berikutnya.
"Secara sentimen eksternal, para pejabat Federal Reserve, yang dipimpin oleh Presiden The Fed San Francisco, Mary Daly, dan Gubernur Michelle Bowman, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga dalam waktu dekat mungkin belum diperlukan," kata Ibrahim dalam risetnya.
Selain itu, dia menyebut pasar saat ini sedang menunggu arah petunjuk Ketua bank sentral AS atau The Fed, Kevin Warsh dalam Pertemuan Tahunan IMF di Bangkok menjelang rapat moneter akhir bulan. Dari dalam negeri, wacana MSCI menurunkan status pasar Indonesia menjadi standalone market pada 30 Juni 2027 akibat masalah tata kelola dan dugaan perdagangan terkoordinasi makin memperkeruh suasana.