Erwin menambahkan, meningkatnya sentimen penghindaran risiko atau risk-off mendorong penguatan dolar AS sekaligus memicu arus modal keluar (capital outflow) dari aset-aset negara berkembang (emerging markets).
Meski menghadapi tekanan eksternal, Erwin menilai pergerakan rupiah masih sejalan dengan dinamika mata uang di kawasan regional. Pelemahan rupiah secara quarter-to-date (QTD) atau sejak awal kuartal tercatat sebesar 0,17 persen.
"Secara umum, pergerakan Rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan pelemahan terbatas secara quarter-to-date (QTD) sebesar 0,17 persen. Cadangan devisa tercatat terjaga di level 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026," kata dia.
Untuk meredam volatilitas nilai tukar, BI terus melakukan intervensi melalui berbagai instrumen di pasar keuangan, baik di dalam maupun luar negeri.
"Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya. Intervensi terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," ucapnya.