Kenaikan yield tersebut turut memicu arus keluar dana dari portofolio negara-negara berkembang. Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi meningkatnya kebutuhan valas importir menjelang akhir kuartal III.
"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi," kata dia.
Merespons pelemahan rupiah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS, BI menegaskan akan terus menjaga stabilitas pasar valas melalui triple intervention.
"Intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," ucapnya.
Selain intervensi di pasar, BI juga memperkuat stabilisasi melalui peningkatan insentif untuk instrumen Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai atau hedging. Langkah tersebut ditujukan untuk mendukung pendanaan luar negeri.