Masih melansir jurnal yang sama, warna merah dan putih kemudian digunakan sebagai bendera organisasi Indische Vereeniging pada tahun 1908. Indische Vereeniging sendiri merupakan organisasi buatan para pemuda Indonesia yang belajar di Belanda.
Menjelang kemerdekaan Indonesia, bendera pusaka berwarna merah dan putih dijahit langsung oleh istri Soekarno, Fatmawati. Fatmawati menemukan kain berwarna merah dan putih berkat bantuan Shimizu, warga Jepang yang dipercaya sebagai perantara perundingan Jepang dan Indonesia.
Dalam kondisi mengandung Guntur Soekarnoputra, Fatmawati menjahit bendera tersebut pada Oktober 1944 dengan mesin jahit Singer. Proses penjahitan dilakukan karena Soekarno memberikan mandat untuk menjahit bendera dalam rangka persiapan kemerdekaan.
Famawati tidak menggunakan mesin jahit yang digerakkan dengan kaki karena kondisinya yang sangat rentan. Dalam waktu dua hari, proses penjahitan bendera itu berhasil ia selesaikan. Ketika sedang menjahit, Fatmawati dikabarkan menangis haru.
Air mata haru keluar dari matanya karena mengingat rakyat Indonesia yang berhasil meraih kemerdekaan atas Jepang. Hal itu diketahui dari sang anak, Sukmawati Soekarnoputri.