Perjalanan Sjamsul Kahar sebagai wartawan berlangsung di tengah situasi sulit. Ketika konflik Aceh terjadi, aktivitas jurnalistik menghadapi berbagai tekanan dan ancaman.
Pada 1999, rumah Sjamsul Kahar bahkan diserang bom molotov. Dia juga pernah menerima ancaman kematian terkait pekerjaannya sebagai pimpinan redaksi Serambi Indonesia.
Namun, salah satu babak paling penting dalam perjalanan Sjamsul Kahar terjadi ketika tsunami menerjang Aceh pada 26 Desember 2004. Bencana tersebut menghancurkan kantor dan mesin cetak Serambi Indonesia serta menyebabkan puluhan pekerja media menjadi korban atau hilang.
Serambi Indonesia sempat berhenti terbit. Namun, Sjamsul Kahar bersama rekan-rekannya berupaya menghidupkan kembali surat kabar tersebut di tengah keterbatasan.
Enam hari setelah tsunami, tepatnya 1 Januari 2005, Serambi Indonesia kembali terbit. Surat kabar tersebut dicetak menggunakan mesin di Lhokseumawe dengan sumber daya yang sangat terbatas.